Up Close and Personal

nama tengahku berinisial “r”


nama tengahku berinisial “r”.
RAUN.

istilah itu aku dapat ketika kali ke sekian aku menginjakkan kakiku di ranah minang dan kali ini untuk selanjutnya. tidak ada kata pindah antar kota antar propinsi antar negara, hingga detik ini. raun artinya jalan-jalan dalam bahasa minang, entah dengan asal muasal yang aku tidak tahu. asumsiku kata ini diadaptasi dari kata round dalam bahasa inggris, secara hanya itu bahasa asing yang kukenal, dengan analogi berputar-putar seperti lingkaran. ini hanya sebuah asumsi, teman. jangan kau pikir ini yang sebenarnya. setelah ku mengenal kata raun, yang kupikir kata itu merupakan dalam bahasa minang asli, kemudian aku menemukan istilah lain yang lebih “minang”: babega-bega. mungkin masih ada istilah minang lainnya untuk “jalan-jalan” dari dialek-dialek yang ada, tapi aku kekeuh untuk mempergunakan kata raun.

hidupku dari lahir hingga hampir 17 tahun yang lalu selalu berpindah-pindah, nomaden. pindah ke sebuah kota, unpacking semua barang, tinggal hanya hitungan bulan atau beberapa tahun, kemudian packing barang-barang itu semua kembali untuk dibawa ke kota selanjutnya. dan begitu seterusnya. pindah sekolah seperti pindah naik sudah hal yang biasa. karena terbiasa maka menikmati, yang lama-lama ketagihan dan candu.

orang tuaku pun candu raun, yang menjadikanku candu raun pula, seperti orang yang bulunya bertebaran di mana-mana sehingga harus mencari ke mana-mana guna dipungut. dan candu raun ini pun turun temurun ke anak-anakku, mungkin nantinya akan turun ke cucu-cucuku, cicit-cicitku. lucu. ketika tinggal di kota yang “kujaga dan kubela” ini hingga tahun ke-17 ini, aku pun bertemu dengan teman-teman yang silih berganti tetapi tetap candu raun. what a wonderful life. beruntung.

di usia yang berkepala “3” ini, aku sudah mengunjungi banyak tempat, kota, dan negara. tapi aku tetap manusia dan bumi ini begitu luasnya sehingga aku tetap si candu raun. masih mempunyai mimpi-mimpi untuk mengunjungi lebih banyak lagi tempat, terutama mengeksplor Indonesia, negara bodoh yang telah membuat aku mencintainya. mudah-mudahan aku masih cukup umur.

kamarmandi di flamboyan, padang
9 februari 2012 @3.00 a.m.


Buah Itu Jatuh Tak Jauh Dari Pohonnya


Pria muda bertubuh tambun dan berkulit kelam itu. Aku mengenalnya. Aku mengenalnya cukup baik.

Tapi aku tidak begitu mengenal pria berumur yang juga bertubuh tambun dan berkulit kelam itu, yang duduk di hadapan pria muda yang kukenal. Aku tidak begitu mengenalnya sebaik pria muda itu mengenal pria berumur itu.

Aku melihat dua pria, yang sekilas terlihat berparas serupa dan hanya usia yang membedakannya, itu sedang duduk berdua, bercerita tentang entah apa yang tidak bisa kudengar dari tempat kuberada. Yang kulihat hanyalah dua pasang mata yang saling menghindar, berusaha berkomunikasi dengan baik walaupun kata-kata yang keluar cukup dibilang hemat. Tapi kurasakan dua hati yang memendam kerinduan yang mendalam, yang saling mengagumi tapi tidak terungkap, dan hasrat yang besar untuk bisa saling berbagi.

(more…)


Dia Menyebut Dirinya Za!


Hari ini aku melangkahkan kaki keluar rumah sehening mungkin, takut jagoan kecilku tahu pasti dia akan ngekor kemana aku pergi. Hari ini aku harus menyendiri, berkutat dengan folder-folder yang sudah menahun di lemari untuk kembali aku cek dan menyerahkannya kepada yang berwajib.

Tidak ada mimpi buruk yang menyelimuti tidurku tadi malam dan tidak pernah terbayangkan olehku untuk bertemu dia lagi.

Ya, dia! Dia menyebut dirinya Za!

 

 

 

 

 

 

 

(more…)