Perjalanan SAM

Pendidikan Karakter?


Karakter suatu bangsa ditentukan oleh karakter masyarakatnya, karakter masyarakat suatu bangsa ditentukan oleh pola asuh keluarganya.


Sejak dua hingga tiga minggu yang lalu, dunia pendidikan, terutama di seputaran Sumatera Barat, dimarakkan dengan Pendidikan Karakter yang diusung oleh Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno. Kenapa begitu marak? Karena ide yang diajukan ini dicanangkan secara nasional. Sudah pasti itu adalah sebuah prestasi untuk seorang aktor pendidikan di kancah pendidikan nasional.

Membaca berita-berita yang ada, saya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Yang tidak saya temukan korelasinya adalah antara pendidikan karakter itu sendiri dengan pengalokasian dana sebesar 55 juta di setiap sekolah yang menjalankan program tersebut. Dan setelah saya telaah lagi daftar sekolah yang telah menjalankan program pendidikan karakter itu tak lain hanya pada jenjang pendidikan menengah.

Saya hanya ingin memberikan opini saya mengenai pendidikan karakter ini berdasarkan pengalaman saya di dunia pendidikan yang masih belum seberapa ini. Masih jauh dari Bapak Irwan yang sudah dikukuhkan secara profesi sebagai profesor di dunia pendidikan. 🙂 (more…)


sekolahalam minangkabau.. sebuah awal perjalanan


Hening. Malam yang sedang kulalui di Echo Homestay, Harau, dengan kesulitanku untuk tidur. Padahal esok aku sudah berjanji dengan Ibu Yosi untuk mengunjungi sekolah yang sedang dipimpinnya. Malam ini yang ada hanyalah lolongan anjing di luar sana, lengkap dengan gemanya yang tujuh tingkat, seperti ayam kokok tujuah lenggek. Oh My God!! What a spooky night.

Di kesunyian ini, aku kembali mengingat perjalanan hidupku, mulai menorehkannya di atas kertas elektronik sehingga kelak aku tetap ingat semuanya dikala aku sudah mulai kehilangan ingatanku satu per satu, atau jika aku tidak berumur panjang, aku bisa memberikan sedikit pengetahuan tentang diriku kepada anak-anak dan cucu-cucuku nanti bagaimana kehidupan ibu dan neneknya dulu.

Ahhh.. Tuhan adalah scriptwriter yang begitu hebat. Beliau membuat semua skenario hidup kita satu per satu. Begitu hebatnya karena bermiliaran makhluk hidup yang ada di bumi yang harus dipikirkanNya.

Sebagai manusia, aku tidak pernah secara nyata melihat atau tersentuh tangan-tangan Tuhan secara harfiah karena Beliau sudah disibukkan dengan kepentingan seluruh makhluk ciptaanNya. Yang kurasakan, tangan-tangan ajaib Tuhan selalu menyentuhkan melalui berbagai kebetulan-kebetulan.

Dan, Teman, kebetulan itu tidak hanya kurasakan satu kali, tetapi hampir di setiap hari ada kebetulan-kebetulan itu yang datang di kehidupanku.

(more…)


Pendidikan?? Ohhh Noo..!


Ditemani MP3 yang mengalun dari iTunes-ku, angin yang berhembus sepoi-sepoi dari balik jendela di depan meja kerjaku di sekolahalam minangkabau, membuat aku kembali bernostalgila tentang perjalananku hingga hari ini.

Diawali dengan ketidakpercayaanku akan pendidikan di Indonesia sehingga membuatku membuka lagi cita-cita lamaku untuk mendirikan sebuah sekolah seperti sekolah yang pernah aku hinggapi di luar Indonesia. Aku tidak ingin anak-anakku kelak merasakan apa yang dirasakan oleh Ibunya ketika detik-detik kepergiannya ke sekolah dulu: perasaan enggan masuk kelas, sebal dengan pelajaran yang jarang aku mengerti ketika guruku mengajarkannya di depan kelas, malas bangun pagi untuk berangkat ke sekolah, dan lain sebagainya. Well, I’m not a big fan of Indonesian School, just like my father.

(more…)


Aku Gagal Kali Ini


Hari ini, setelah termenung selama beberapa saat di meja kantorku yang menghadap langsung ke jendela sehingga memberikan angin sepoi-sepoi yang membuat urat mataku sedikit kendur, aku menemukan bahwa aku dalam posisi yang gagal terhadap apa yang telah kubangun selama ini. Aku gagal untuk mendapatkan orang-orang yang benar-benar ingin menegakkan pendidikan sejati di muka bumi, walaupun sempat terlontar ke muka temanku bahwa sebenarnya mereka ada di dekatku karena ingin berjuang demi anak-anak itu, bukan karena diriku, dan hal itu pernah aku temukan tapi sekarang tidak lagi.

(more…)


Blank


I feel like writing now but I don’t know what to write..

Kepala ini seolah-olah akan meledak bila waktunya tiba. Chaos. Mungkin itu kata yang tepat untuk saat ini. Logika & perasaan saling beradu pendapat mana yang harus didahulukan. Yang ada hanya, Bingung.

Usahaku untuk menulis saat ini untuk menguraikan satu per satu apa yang telah tersimpul dalam satu simpul besar, untungnya belum simpul mati.

Salah satu benang yang tersimpul adalah rasa takut kehilangan, seperti yang telah muncul sebelumnya dan dengan susah payah kulawan. Rasa takut kehilangan para sahabat-sahabatku yang selalu mendukungku selama ini, membantuku selama ini, yang beberapa saat ini kutelantarkan. Rasa takut tidak seimbang. Rasa takut tidak mampu. Rasa takut.. Rasa takut..

Benang yang lain adalah rasa bersalah atas kepergianku beberapa waktu ini, yang menurut egoku adalah sebuah tindakan bijak padahal tidak kurang dan lebih adalah sebuah pelarian dari sesuatu yang tidak jelas, menurutku saat ini.

Utasan benang lain berasal dari prediksi-prediksi yang tak jelas dan tak penting, yang selalu kuhindari tetapi selalu saja muncul. Selalu tak kupedulikan, tetapi selalu terlintas dalam pikiranku. Aarrrgghhh..

(more…)


Air..


Setelah bersama-sama dua tahun, tidak bisa dipungkiri lagi ternyata lingkungan dan pengalaman hidup telah merubah kepribadian, prinsip, pandangan, cita-cita dan segala hal yang bersifat pribadi. Bagi beberapa orang hal ini adalah merupakan tantangan untuk bisa bersama-sama. Masalah merupakan suatu simulasi untuk menguatkan ikatan dan penghias hidup, yang jika kita pergi kemana pun selalu mengikuti. Ketika kita bersama, banyak masalah yang telah menghiasi hubungan kita, tetapi semua kita lalui dengan baik dan kita pun menjadi lebih bijak. Tapi kini masalah-masalah yang datang belakangan ini, malah menjadikan, mungkin sebagian dari kita, menjadi tamak, sombong dan selalu melihat ke atas, berangan-angan bahwa dunia atas yang dilihat adalah jalan keluar dari semua masalah. Well, kita tidak akan pernah tahu kecuali mencobanya. Mencobanya berarti membuyarkan semua hubungan kita yang telah kita lalui selama dua tahun. Tidak pernahkah kita melihat kembali hubungan ini dengan lebih positif.

(more…)