Rilis Ulang “Live and Let Die”, Tak Sekedar Bernyanyi, Bumiy Hadirkan Semangat Berkarya Tanpa Batas

Membuat karya dan ditelurkan menjadi sebuah single atau album adalah cita-cita Bumiy sejak lama, dan ternyata untuk mewujudkannya butuh puluhan tahun. Butuh keberanian yang amat sangat untuk bisa unjuk gigi, karena Bumiy cenderung kurang percaya diri. Untungnya, suami, anak-anak, ibu dan juga teman-teman sangat mendukungnya bermusik.

Telah bermain musik sejak usia 3 tahun. Walau tidak terlalu fokus tapi mulai memfokuskan diri ketika “harus” memilih kelas pilihan Choir (Paduan Suara) saat SMP dengan jadwal latihan setiap hari.

“Pas SMP itu juga aktif bikin-bikin vocal grup di KBRI New Delhi dan rutin tampil. SMA juga suka nyanyi dan ngeband ama temen-temen SMA. Pas kuliah juga gabung sama band dan mulai komersil jadi homeband café. Jadi kalau ditanya fokusnya kemana ya ke vocal kali ya, walaupun gue merasa masih banyak kurangnya. Kalau alat musik bisa tapi ya gitu, gak expert. Hahaha.. Gue main dikit piano, dikit gitar, dikit bas, dikit drum, pianika dan recorder (suling waktu SD itu loh).. hahahaha..,” ungkap Bumiy bercerita pengalaman awal berkecimpung di dunia musik.

“Sometimes to step forward, you have to take several steps back”

Kini, akhirnya Bumiy merilis single pertama berjudul “Live and Let Die”. Single ini merupakan produksi ulang karya Paul McCartney pada 1973 untuk OST. James Bond yang dibintangi Roger Moore.

Dari hasil rekaman beberapa lagu, “Live and Let Die” dianggap paling memuaskan, hingga diputuskan menjadi first single. Sementara lagu-lagu lainnya masih dalam proses produksi.

“Sebenernya pas take lagu Live and Let Die, gue ada take beberapa lagu antara lain The One-nya Elton John, Ben-nya Michael Jackson, Believe-nya Cher. Tapi kok yang paling enak ya Live and Let Die ini, gue suka banget dan versinya belum ada yang begini. Well, riset dulu sih.. hahaha..,” ujarnya.

Sementara lagu-lagu lainnya dipilih secara random berdasarkan kesukaan dan pas ketika dinyanyikan. “Live and Let Die” akan dirilis pada 27 November 2020 mendatang dalam format digital. Dan lagu-lagu lainnya rencananya akan dirilis satu per satu per 3-4 minggu.

“Live and Let Die” yang dibawakan Bumiy terdengar begitu bening dan menghipnotis, membawa kembali ke masa-masa memorable dengan permainan piano yang indah. Sejago itukah Bumiy bermain piano?

“It’s a nono! Bukan gue yang main. Yang main itu Ajo, nama lengkapnya sih Alfitra Mahyon. Dulu di bawah band yang sama (Intro Band) walaupun gak ketemu – gue keluar dia masuk,” jelasnya tentang nama dibalik dentingan piano itu.

Musik “Live and Let Die” diaransemen bersama Ajo. Sementara lagu-lagu lain berkolaborasi dengan beberapa musisi di Padang. Proses recording dilakukan di 3 am Studio, dibantu Cimay sebagai Sound Engineer.

Proses “Live and Let Die” ini merupakan proses trial error bagi Bumiy. Belajar produksi, mulai dari vocal yang terbiasa dengan mic wireless beralih menggunakan mic condenser, yang tentu saja berbeda cara penggunaannya ketika bernyanyi.

“Terpaksa take berulang-ulang tak berkesudahan, aseekk… Live and Let Die ini take dari bulan Juli 2020, baru kelar bulan Oktober. Trus di tengah jalan pas udah dishare ke platform-platform, ternyata gue nyanyi kurang lirik, booookk! Ya sudah lah, gue take down lagi trus gue take ulang, benerin liriknya, trus baru dishare lagi. Rugi sih rugi kocek ya, tapi gak apa-apa daripada nanti dikomplen orang wkwkwkwk..,” terangnya.

Selain itu Bumiy jadi belajar bagaimana mempublikasikan lagu sendiri, mengurus license-nya, strategi promosi, membuat materi-materi promo, dan sebagainya.

FYI, motivasi sebenarnya Bumiy merilis single (selain karena cita-cita sejak dulu) adalah rasa penasaran. Karena banyak orang yang meng-cover lagu, tapi tidak dipublikasikan di platform musik digital, hanya sebatas YouTube.

“Padahal kadang gue liat arrangement-nya keren-keren tapi kena claim copyright, which is artinya gak punya lisensi. Semahal itu ya? Padahal gue juga sering dengar banyak musisi yang memproduksi ulang lagu orang lain dan dijual di platform musik digital. Nah, gue jadinya riset nih dan ternyata untuk lagu barat tidak serumit yang dibayangkan. Untuk lagu Indonesia gue belon riset, mungkin abis ini. Mudah-mudahan abis ini bisa bantu temen-temen yang emang mau cover resmi lagu-lagu musisi lain,” harapnya.

Melalui karya-karyanya, Bumiy ingin menyampaikan bahwa melakukan sesuatu sesuai passion itu tidak berbatas usia.

“Banyak yang ngetawain gue, lah udah tua juga loe masih juga. Yah, kalau gitu mikirnya mah yang ada gue bangkotan duluan kali ya. Kita gak pernah tau dengan hidup, kadang kita sudah menetapkan tujuan tapi bukannya langsung straight to the goal malah kita dibawa jalan-jalan dulu ke sana kemari. Dan gue gak merasa waktu gue terbuang selama ini karena gue ‘jalan-jalan’ ke sana kemari karena banyak ‘jajanan’ yang bikin gue bisa ngerasain bermacam-macam ‘rasa’. So, sometimes to step forward you have to take several steps back,” pungkasnya.

Semoga single ini bisa diterima penikmat musik. “Let Live and Die” dari Bumiy sudah bisa didengarkan di platform musik digital mulai 27 November 2020.

Sekarang, bersiaplah menantikan kelahiran “Live and Let Die” dari Bumiy, dan siapkan nafas yang panjang. Karena dijamin, kamu akan “lupa” menarik nafas saat lagu ini dimainkan!

(NB 26/11/2020)