Archive for February, 2012

nama tengahku berinisial “r”


nama tengahku berinisial “r”.
RAUN.

istilah itu aku dapat ketika kali ke sekian aku menginjakkan kakiku di ranah minang dan kali ini untuk selanjutnya. tidak ada kata pindah antar kota antar propinsi antar negara, hingga detik ini. raun artinya jalan-jalan dalam bahasa minang, entah dengan asal muasal yang aku tidak tahu. asumsiku kata ini diadaptasi dari kata round dalam bahasa inggris, secara hanya itu bahasa asing yang kukenal, dengan analogi berputar-putar seperti lingkaran. ini hanya sebuah asumsi, teman. jangan kau pikir ini yang sebenarnya. setelah ku mengenal kata raun, yang kupikir kata itu merupakan dalam bahasa minang asli, kemudian aku menemukan istilah lain yang lebih “minang”: babega-bega. mungkin masih ada istilah minang lainnya untuk “jalan-jalan” dari dialek-dialek yang ada, tapi aku kekeuh untuk mempergunakan kata raun.

hidupku dari lahir hingga hampir 17 tahun yang lalu selalu berpindah-pindah, nomaden. pindah ke sebuah kota, unpacking semua barang, tinggal hanya hitungan bulan atau beberapa tahun, kemudian packing barang-barang itu semua kembali untuk dibawa ke kota selanjutnya. dan begitu seterusnya. pindah sekolah seperti pindah naik sudah hal yang biasa. karena terbiasa maka menikmati, yang lama-lama ketagihan dan candu.

orang tuaku pun candu raun, yang menjadikanku candu raun pula, seperti orang yang bulunya bertebaran di mana-mana sehingga harus mencari ke mana-mana guna dipungut. dan candu raun ini pun turun temurun ke anak-anakku, mungkin nantinya akan turun ke cucu-cucuku, cicit-cicitku. lucu. ketika tinggal di kota yang “kujaga dan kubela” ini hingga tahun ke-17 ini, aku pun bertemu dengan teman-teman yang silih berganti tetapi tetap candu raun. what a wonderful life. beruntung.

di usia yang berkepala “3” ini, aku sudah mengunjungi banyak tempat, kota, dan negara. tapi aku tetap manusia dan bumi ini begitu luasnya sehingga aku tetap si candu raun. masih mempunyai mimpi-mimpi untuk mengunjungi lebih banyak lagi tempat, terutama mengeksplor Indonesia, negara bodoh yang telah membuat aku mencintainya. mudah-mudahan aku masih cukup umur.

kamarmandi di flamboyan, padang
9 februari 2012 @3.00 a.m.

Advertisements

Aku Ingin


 

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:

Dengan kata yang tak sempat diucapkan

Kayu kepada api yang menjadikannya abu

 

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:

Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

 

 

Sapardi Djoko Damono (1989)

Terima kasih kepada @benimonzier yang mengingatkan puisi ini lagi 🙂