Pendidikan Karakter?


Karakter suatu bangsa ditentukan oleh karakter masyarakatnya, karakter masyarakat suatu bangsa ditentukan oleh pola asuh keluarganya.


Sejak dua hingga tiga minggu yang lalu, dunia pendidikan, terutama di seputaran Sumatera Barat, dimarakkan dengan Pendidikan Karakter yang diusung oleh Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno. Kenapa begitu marak? Karena ide yang diajukan ini dicanangkan secara nasional. Sudah pasti itu adalah sebuah prestasi untuk seorang aktor pendidikan di kancah pendidikan nasional.

Membaca berita-berita yang ada, saya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Yang tidak saya temukan korelasinya adalah antara pendidikan karakter itu sendiri dengan pengalokasian dana sebesar 55 juta di setiap sekolah yang menjalankan program tersebut. Dan setelah saya telaah lagi daftar sekolah yang telah menjalankan program pendidikan karakter itu tak lain hanya pada jenjang pendidikan menengah.

Saya hanya ingin memberikan opini saya mengenai pendidikan karakter ini berdasarkan pengalaman saya di dunia pendidikan yang masih belum seberapa ini. Masih jauh dari Bapak Irwan yang sudah dikukuhkan secara profesi sebagai profesor di dunia pendidikan. 🙂

Saya melihat ide pendidikan karakter yang saat ini muncul adalah ketika segelintir orang, yang kemudian menjadi banyak orang termasuk saya, menyadari bahwasannya pendidikan formal di Indonesia sangat sangat mengedepankan pendidikan kognitif. Saya pun sempat mencicipinya ketika saya mulai memasuki pendidikan tingkat menengah atas di sebuah SMA favorit di kota Padang. Ketika siswa dipaksa untuk menjadi “standar” ternyata di kehidupannya nanti banyak ilmu yang di”standar”kan tadi menjadi tidak berguna atau tidak teridentifikasi kegunaannya di kehidupan sehari-hari karena yang dipelajari hanyalah hitam di atas putih yang kemudian ditransformasi ke dalam bentuk angka-angka berwarna hitam dan merah.

Well, saya berkecimpung di dunia pendidikan hanya berdasarkan pengalaman pribadi. 🙂

Justru yang saya rasakan sangat bermanfaat di masa kini adalah kegiatan-kegiatan saya di ekstra kurikuler, yang membentuk kepribadian, pola pikir, pengalaman-pengalaman yang kemudian terstruktur dalam bentuk IQ, EQ dan SQ. Makanya ketika saya memutuskan untuk berkecimpung di dunia pendidikan, justru pengalaman-pengalaman inilah yang saya bawa agar anak-anak dapat dididik secara terintegrasi sejak dini.

Berdasarkan pengetahuan yang saya dapatkan dari para senior di dunia pendidikan, pengetahuan yang saya rangkum dari buku-buku, yang kemudian yang dikaitkan dengan pengalaman-pengalaman belajar saya sejak dini, dan dibandingkan dengan generasi-generasi yang lalu dan yang sekarang, saya menemukan bahwa memang Pendidikan Karakter itu sangat diperlukan. Saya sangat setuju dengan ide Bapak Gubernur kita mengenai itu karena saya pun menilai ada kemerosotan dalam karakter generasi muda sekarang yang dikarenakan aplikasi Pendidikan Nasional kita yang juga menurun.

Mengapa saya katakan aplikasi Pendidikan Nasional kita? Karena setelah saya mempelajari Sistem Pendidikan Nasional, yang saya lihat bukan sistemnya yang salah, justru aplikasi lapangannya yang salah. FYI, aplikasi sangatlah ditentukan oleh manusia-manusia yang menjalankannya, terutama di level mendasar (kelas dan sekolah).

Yang saya tidak setujunya adalah menformalkan Pendidikan Karakter itu menjadi sebuah kurikulum–dalam arti kata akan ada standarisasi lagi dan men”standar”kan lagi karakter siswa. Terkadang saya kasihan melihat siswa-siswi ini, sudahlah pakaian diseragamkan, pengetahuan distandarkan dan sekarang karakter yang harus ikut-ikutan pula distandarkan. Mudah-mudahan apa yang saya tangkap ini adalah salah walaupun saya sudah pernah melihat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran untuk Pendidikan Karakter ini. Subhanallah.

Setahu saya, tolong kritik saya kalau saya salah, setiap manusia di muka bumi ini memiliki karakternya masing-masing. Pasti ada perbedaan karakter antara manusia A dengan B, dan begitu seterusnya. Karakter berbeda dengan sopan satun dan budi pekerti.

Mengapa setiap manusia mempunyai perbedaan karakter? Menurut penafsiran saya, ada dua hal yang sangat mempengaruhi karakter seseorang: faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan faktor bawaan lahir atau innate, sedangkan faktor eksternal adalah faktor lingkungan-mulai dari keluarga, lingkungan rumah, sekolah, dan lain sebagainya. Setiap faktor mempunyai sifat positif dan negatif. Jika rangsangan faktor eksternal positif, maka faktor internal positif pun akan terasah. Jika rangsangan faktor eksternal yang didapatkan bersifat negatif, maka faktor internal yang bersifat negatif pun yang akan terasah. Sopan santun dan Budi Pekerti merupakan faktor eksternal, yang berusaha diajarkan atau ditularkan agar memperkuat karakter seseorang tersebut. Maka dari itu, menghadapi setiap orang pun tidak bisa disamaratakan, harus disesuaikan dengan karakter, dan satu lagi, kemampuannya.

Kembali lagi ke Pendidikan Karakter yang dicanangkan secara nasional ini, yang kemudian distandarkan dan dibuat kurikulumnya. Menurut saya jika aplikasi Sistem Pendidikan di level terbawah belum dibenahi, mau distandarkan seperti apapun Pendidikan Karakternya maka tidak akan ketemu tujuan diadakannya Pendidikan Karakternya itu sendiri. Kenapa? Selama masih ada benang merah yang memisahkan antara pendidikan sekolah dan masyarakat maka harapan kesuksesan pendidikan karakter yang dicanangkan akan menjauh.

Saya ingat sebuah pernyataan yang saya lupa asalnya: Karakter Bangsa ditentukan oleh Karakter Masyarakatnya. Dan kemudian saya teruskan menjadi: Karakter Masyarakatnya ditentukan oleh Pola Asuh Keluarganya.

Pengembangan yang saya lakukan terhadap pernyataan di atas memang tidak ilmiah, atau saya belum menemukan tinjauan pustakanya yang pas. Tetapi berdasarkan yang saya alami dan amati terhadap diri saya sendiri, teman-teman, anak-anak didik dan sekitaran saya, hal itu menjadi benar. Pendidikan, apalagi pendidikan karakter, tidak bisa hanya diserahkan kepada pihak sekolah saja karena itu adalah tanggung jawab bersama antara pihak sekolah dan masyarakat. Persentase keberadaan siswa lebih besar di tengah masyarakat dan keluarga daripada di sekolah sehingga pendidikan merupakan tanggung jawab bersama. Sedangkan aplikasi Sistem Pendidikan Nasional yang ada sekarang mengakibatkan paradigma pemisahan antara pendidikan rumah/masyarakat dengan sekolah. Contoh kecil, jika anak mendapatkan nilai yang buruk maka pihak sekolah yang akan disalahkan. Bagaimana bisa, jika si anak lebih banyak waktu meleknya bersama keluarga/masyarakat ketimbang di sekolah. Contoh lain, dengan adanya pemetaan prestasi sekolah yang berdasarkan nilai-nilai dalam bentuk angka dan persentase maka muncul peringkat sekolah. Sehingga semua orang tua ingin memasukkan anaknya di sekolah dengan peringkat yang paling baik. Untuk mendapatkan peringkat paling baik ini terkadang pendidik maupun orang tua tidak melihat proses di belakangnya, apa yang harus dialami siswa (baca: stres karena 80% waktu meleknya harus membahas pelajaran). Padahal Sistem Pendidikan Nasional yang harusnya diterapkan sekarang ini sudah jauh lebih fleksibel, yang sebenarnya hal-hal seperti ini sudah bisa mulai dipudarkan.

Pendidikan itu seyogyanya dilaksanakan bersama-sama dengan para stakeholder (orang tua, masyarakat, pemerintah, dll). Karena pendidikan itu sebaiknya bersifat berkesinambungan, harus ada kerjasama yang baik antara para stakeholder, terutama orang tua pada pola asuhnya, karena itu adalah pendidikan pertama yang diterima oleh seorang anak.

Pelik memang, tapi sebelum pendidikan karakter ini dijalankan, ada hal yang lebih mendasar daripada itu yang harus dibenahi dan diterapkan pada level pendidikan sedini mungkin. Dan sebenarnya untuk membenahi ini semua juga tidak diperlukan alokasi dana khusus, yang sangat diperlukan di sini adalah hati dari para aplikator pendidikan Indonesia.

Sudahkah Anda mempunyai hati untuk ikut berperan dalam membentuk karakter bangsa?

kamar, +1 hari kebangkitan nasional 2011

@2:35 a.m.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s