Buah Itu Jatuh Tak Jauh Dari Pohonnya


Pria muda bertubuh tambun dan berkulit kelam itu. Aku mengenalnya. Aku mengenalnya cukup baik.

Tapi aku tidak begitu mengenal pria berumur yang juga bertubuh tambun dan berkulit kelam itu, yang duduk di hadapan pria muda yang kukenal. Aku tidak begitu mengenalnya sebaik pria muda itu mengenal pria berumur itu.

Aku melihat dua pria, yang sekilas terlihat berparas serupa dan hanya usia yang membedakannya, itu sedang duduk berdua, bercerita tentang entah apa yang tidak bisa kudengar dari tempat kuberada. Yang kulihat hanyalah dua pasang mata yang saling menghindar, berusaha berkomunikasi dengan baik walaupun kata-kata yang keluar cukup dibilang hemat. Tapi kurasakan dua hati yang memendam kerinduan yang mendalam, yang saling mengagumi tapi tidak terungkap, dan hasrat yang besar untuk bisa saling berbagi.

Aku hanya mengenal satu dari mereka. Tapi entah mengapa, sejak pertemuan yang pertama dengan pria berumur itu aku tahu pasti bahwa mereka layaknya pinang dibelah dua. Sama-sama berparas keras tetapi berhati peka. Aku dapat melihat sosok pria berumur itu melalui pria muda tersebut. Semakin aku mengenal salah satunya, semakin aku merasa bahwa aku mengenal keduanya.

Perbedaan yang terbersit hanya karena usia yang bertaut cukup layaknya ayah dan anak, karena buah itu jatuh tidak jauh dari pohonnya. Mereka saling mengagumi karena mereka bisa melihat diri mereka sendiri dalam tubuh yang berbeda.

 

 

 

Ruang 3×4

16 Desember 2010 @10.15 WIB

setelah melakukan sidak 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s