KERINDUAN AKAN LEBARAN YANG SAKRAL


Rumah itu berdiri di atas tanah berukuran kurang lebih sembilan ratus meter persegi. Bangunannya sendiri, menurut estimasiku, seperti aku mengestimasi ruang tiga kali empat itu, berukuran kurang lebih lima ratus meter persegi.

Dulu, rumah ini kerap dikunjungi sanak saudara, teman-teman, para peminta-minta hingga para maling. Begitu ramainya sehingga aura rumah ini begitu hidup. Bahkan sering kali rumah ini dijadikan markas a.k.a. basecamp a.k.a. tempat nongkrong siapa saja. Maklum, si empunya rumah memang suka berkongkow-kongkow, mulai dari yang gaek hingga yang paling muda, yaitu aku!

Pada malam takbiran seperti ini, biasanya aku dan para penghuni rumah sibuk mempersiapkan segala penganan dan hidangan untuk dihidangkan esok hari. Walaupun kerap aku memilih tugas keluar seperti membeli minuman, menjemput kue, dan lain sebagainya.

Jika lebaran tiba, seperti esok hari, maka rumah ini akan dipenuhi oleh sanak saudara, handai taulan, teman-teman, hingga anak-anak yang datang hanya sekedar menambang uang kertas terbaru dari bank. Semua orang bersuka cita, merayakan kemenangan di hari yang fitri. Bersungkem-sungkeman, memohon maaf kepada seluruhnya, hingga tak terasa air mata sudah bercucuran karena merasa terlalu banyak dosa. Menikmati lezatnya ketupat, opor ayam dan rendang yang menjadi menu langganan setiap tahunnya sambil bersenda gurau dan bercengkrama antara kita.

Tapi tidak untuk beberapa tahun ini. Sejak ayahku berpaling ke sisiNya, aku tidak pernah merasakan malam takbiran yang penuh gotong royong, lebaran yang sakral. Sudah beberapa tahun ini aku absen untuk pergi shalat Eid ke lapangan terdekat, dan selalu kesiangan untuk menyambut tamu yang datang. Kian tahun kian berkurang tamu yang datang ke rumah ini. Sepertinya rumah ini sudah beraura untuk enggan dikunjungi. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin memang ada yang berubah di antara kami, penghuni rumah ini.

Aku sangat merindukan lebaran yang sebenarnya, ketika kita benar-benar merayakan hari kemenangan itu. Ketika kita memang benar-benar ikhlas untuk mensucikan diri. Ketika kita tertawa bersama-sama selayaknya saudara yang baru lahir kembali. Ketika kita bersama-sama saling mengunjungi dan mencicipi masakan-masakan di setiap rumahnya.

Semoga aku masih diberi kesempatan untuk bertemu Ramadhan dan Syawal berikutnya sehingga aku bisa memperbaiki apa yang salah dengan rumah ini dan mendapatkan lebaran yang sakral.

 

 

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI

MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN

SEMOGA AMAL IBADAH KITA DITERIMA DI SISINYA

AMIEN..

 

 

 

Ruang aktifitasku di depan rumah, 9 September 2010

Malam Takbiran menuju Hari Raya Idul Fitri

Seorang diri habis membersihkan rumah, 03.20 WIB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s