P-Walk


Ahhh, sudah lama sekali rasanya tidak menyentuh tab ini. Sepertinya sudah waktunya untukku menorehkan kembali pikiran-pikiranku ke dalam kertas elektronik ini. Sejak 10 Juli yang lalu, rasanya banyak sekali yang harus dibagi.

Kali ini pengalamanku berjalan kaki. Ya, berjalan kaki. Sudah beberapa hari ini aku hobi sekali untuk berjalan kaki. Hobi baru demi mengencangkan beberapa bagian tubuhku yang sudah mulai mengendor akibat penurunan berat badan yang drastis. Jieeee..

P-Walk. Sama seperti Ciwalk atau Cihampelas Walking area yang berada di bilangan Cihampelas, atau Merdeka Walk yang tergelar sepanjang jalan Merdeka di Medan, maka area jajahan perjalanan kakiku kunamai P-Walk, seperti saran dari A’ Welly, yang artinya Padang Walk. Maknanya adalah Walking area yang bernama P-Walk itu adalah sehamparan kota Padang. Selama namanya P-Walk maka Kota Padang adalah daerah jajahannya.

Atas saran seorang teman dekat yang berprofesi sebagai instruktur kebugaran, maka aku memutuskan untuk mencoba berjalan kaki. Biasanya aku berjalan kaki di atas jalan setapak elektronik yang mampu membuat kita, mau tak mau, melangkahkan kaki agar tidak terjerembab (1). Tapi kali ini, karena keterbatasan waktu maka aku memanfaatkan kakiku untuk melangkah menyusuri jalan-jalan menuju sekolah, sekalian membantu para aktifis nature untuk mengurangi efek global warming.

Saran yang lebih lengkapnya adalah mengurangi konsumsi karbohidrat, atau menggantinya dengan karbohidrat yang ramah seperti roti gandum. Konsumsi yang harus banyak adalah serat dan heavy meal cukup dengan protein saja. Wew! What a menu! Diiringi dengan jalan kaki karena bisa membakar cadangan kalori yang sudah membatu di dalam tubuhku, plus mengencangkan bagian-bagian tubuh yang sudah mulai melar, terutama bagian tubuh bagian mulai pinggang ke bawah. Kalau aku, memfokuskannya di bagian antara pinggang hingga lutut, secara betisku sudah cukup kencang bak seorang pemain bola. Tinggal menghilangkan gulungan-gulungan urat yang sudah sedikit kusut.

Setelah kujalani 3 hari ini, memang cukup berat dan butuh pengorbanan tingkat tinggi. Untuk berjalan sih tidak ada masalah. Yang menjadi permasalahan adalah mengkonsumsi hanya serat dan protein ini loh. Menurut instrukturku, yang juga teman sekelasku selama bertahun-tahun di bangku pendidikan formal, aku harus bisa mengajarkan lambungku untuk mengkonsumsi sedikit makanan, agar terbiasa katanya. Yang bagian itu masuk akal. Aku pun berusaha, walaupun lebih banyak cheating day-nya (2), ketimbang disiplinnya. Sudah dua minggu ini, kira-kira hanya seminggu yang berhasil dan seminggu lagi adalah cheating days. Hufffh!

Permasalahan lain adalah ketidaksanggupan kakiku untuk menopang badanku yang mengalami kenaikan berat badan drastis. Padahal dulu kaki-kakiku ini adalah andalanku. Mereka biasa aku ajak untuk beraktifitas fisik. Tetapi sekarang ini, jika digunakan terlalu lama maka ia akan sedikit merajuk, menunjukkan tanda-tanda kekakuan di daerah betis, dan terkadang di jari-jarinya.

KRAM. Itu adalah salah satu modus utamaku jika aku sudah tidak sanggup lagi berjalan dan enggan untuk melanjutkan perjalanan. Yang berakhir pada pemakaian telepon genggam, memutar nomor-nomor darurat yang ada di listnya, dan..eng ing eng..”tolong jemput dong..” =P

Kadang merasa tidak enak juga karena sudah merepotkan orang. Tapi apa boleh buat, terkadang justru sangat menunggu jemputan-jemputan darurat itu. Yang tidak mengenakkannya adalah, berakhir di sebuat tempat makan, yang terkadang mengakibatkan, lagi-lagi, cheating day. Hahahaha..

Selama 3 hari ini berjalan kaki, ada satu pelajaran yang sangat berarti yang dapat kupetik. NEVER WALK ALONE AT NIGHT! Ya, sotoy-sotoy berjalan malam-malam sendirian! Ada satu ketika, aku hendak menunggu antrian mencuci mobil. Tidak tahu harus mengerjakan apa sambil menunggu, iseng-iseng aku pun berjalan kaki. Waktu itu yang terpikir olehku adalah berjalan kemana kaki ingin melangkah saja. Walhasil, aku pun berjalan sekitar 1-2 km dari tempat cuci mobilku. Ketika pulang, hari ternyata sudah menunjukkan pukul 21.30 WIB. Aku pun masih sedikit santai, tidak merasa akan sesuatu buruk bakal terjadi. Hingga tiba di ruas jalan protokol, mulai satu-persatu pengendara sepeda motor, mungkin yang di mobil dan angkutan umum juga tapi aku tak memperhatikan, memandangiku dengan aneh. Belum lagi pengendara motor yang selalu menawarkan jasa ojek kepadaku, yang kubalas dengan gelengan. Dari para pengendara motor itu, ada satu yang kuperhatikan sejak awal mengikutiku. Awalnya cuek, dengan ditemani iPod lengkap dengan earphonenya di telinga, aku pun berjalan santai. Tapi lama-kelamaan gerak-geriknya mencurigakan. Reflek, kutelpon salah seorang sahabatku. Tidak tahu kenapa kok malah dia yang kutelpon. Tapi sudahlah. Dan akhirnya SOS (baca: Agung, red) pun datang dan menjemputku. Tapi kali ini dengan rasa bersalah dan tidak diakhiri di tempat makan (3).

Ya, itulah suka-duka di awal usaha menurunkan 30 kg lagi. Mudah-mudahan berhasil. Tinggal mengatur strategi yang tepat untuk pelaksanaannya dan menahan nafsu untuk melakukan, lagi-lagi, cheating days.

 

 

Footnote:
(1) Kata yang beraksen miring ini sepertinya setara dengan kata tercekat. Bukan begitu, Arsil Hamid? =D
(2) Istilah ini digunakan bagi kami, para pelaku diet ketat, untuk melanggar disiplin dengan melakukan apa yang disukai dan dilarang dalam komitmen. Bukankah begitu, Fadil? huehuehue..
(3) My bad, Gung! Sorry ya.. =D

 

 

 

Kamar Mandi, 1 & 3 Agustus 2010, pukul 22:53 WIB

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s