Pa…


Hari ini, jika jiwa dan ragamu masih ada di sini, di sisiku, maka engkau akan berusia 67 tahun atau 66 tahun. Aku tak tahu, karena yang tahu tepat tahun berapa engkau lahir adalah Datuk dan Nenek saja, apakah 1943 ataukah 1944. Berapa pun itu..

Pa, di hari lahirmu ini, aku di tengah kegalauan yang teramat dalam. Aku rindu untuk berkeluh kesah denganmu. Rindu dengan berbagi pengalaman denganmu. Rindu dengan segala nasehat-nasehatmu, walaupun terkadang selalu diawali dengan argumentasi-argumentasi yang cukup sengit.

Pa, jika engkau dalam kondisi yang kualami saat ini, apakah yang akan kau lakukan? Tell me, Pa..

Pa, aku rindu sosok yang peduli denganku, Pa. Yang bisa menjagaku saat ini, Pa. Dan aku rindu denganmu. Kapankah kita bertemu, Pa? Dimanakah kita akan bertemu, Pa?

Pa, maafkan aku karena aku sering lalai mengirimkanmu angin-angin segar, agar rumahmu tetap sejuk. Maafkan aku karena selalu meratapi kepergianmu. Aku tidak siap. Itu saja.

Pa, kupikir dengan engkau pergi begitu saja maka aku akan mendapatkan sosok yang bisa menggantikanmu. Ternyata aku gagal, Pa.. Apa yang harus aku lakukan, Pa? Aku dalam sebuah dilema yang besar. Aku takut kehilangan arah dan tujuan hidupku, Pa..

Pa, aku penat dengan semua ini. Akankah aku tetap berdiri tegap dan sabar dalam menjalani ini semua? Bantu aku, Pa..

Aku ingat pesan terakhirmu kepadaku untuk menjaga Mama. Aku ingat keluh kesahmu, ketidakpuasanmu selama hidup yang kau bagi denganku, dan aku berusaha untuk meneruskannya, Pa, untuk menjaga Mama. Tapi kini aku pun ternyata tidak sanggup untuk menjaga Mamaku sendiri.

Apa yang terjadi denganku, Pa?

Kini aku punya dua malaikat kecil yang harus kujaga juga, Pa. Mereka sangat lucu dan lugu. Aku sangat menyayangi mereka. Tapi sekarang bukannya aku menjaga mereka bertiga, tapi kini malah aku meninggalkan mereka. Ada apa denganku, Pa?

Pa, apakah aku memang ditakdirkan untuk hidup tersendiri sedari kukecil? Apa memang begini caranya untuk membuatku terus berpikir dan belajar untuk dewasa, Pa?

Pa, aku tahu..

Dari atas sana pasti engkau selalu memperhatikanku seperti engkau memperhatikanku ketika engkau masih ada di sini, dan dengan caramu sendiri.

Dan aku tahu..

Engkau pun akan merasakan semua yang aku rasakan. Di kala aku senang, susah, sedih, dan semua emosi yang kurasakan. Apapun itu..

Pa, aku hanya ingin kau tahu, bahwa aku sayang Papa.. Dan itu tidak pernah tersebut oleh mulut sendiri ketika aku sebenarnya masih punya kesempatan.. Maafkan aku, Pa..

Dan aku hanya ingin kau tahu bahwa aku merindukan “cambukan”mu saat ini untuk membuatku bangkit kembali dari keterpurukan ini.. Life must go on, dan aku tidak boleh cengeng..

Kamar Mandi, di hari ulang tahun Papa yang sudah lewat hampir 2 jam..

10 Juli 2010, 1:47 dini hari..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s