My Vertical Horizon


Kali ini, seperti kali-kali yang lain, aku pulang ke rumah hanya disambut oleh anak-anakku. Kali ini pula, seperti kali-kali yang lain, aku tidak lagi bertemu dengannya karena dia sudah berangkat ke peraduan pertamanya. Kali ini lagi, seperti kali-kali yang lain, aku merasa seperti single parent. Dan kali ini sekali lagi, seperti kali-kali yang lain, aku memandangi wajah jagoan dan srikandiku yang sedang tertidur pulas, bergelut dengan mimpi dan melepaskan semua kelelahan yang telah menghinggapi mereka. Wajah-wajah lugu yang sangat aku rindukan setiap saat.

Mungkin dia juga merasakan hal yang sama. Bukan mungkin, tapi pasti.

Kami hanya berbagi rumah, kamar, tempat tidur, kamar mandi dan lemari, serta membesarkan anak-anak yang sama dengan caranya masing-masing. Rumah hanya tempat menginap. Tidak ada kehangatan di rumah ini, atau memang sebenarnya sudah tugasku yang seharusnya memberikan kehangatan di rumah ini? Mungkin memang ya. Dan aku tidak menjalankannya. Saat ini aku merasa rumah bukan lagi menjadi tempat di mana aku bisa menjadi diriku yang sebenarnya. Aku tidak merasakan sebuah kenyamanan di rumah ini. Sama seperti masa-masa yang telah lalu, ketika aku belum mempunyai seorang pasangan hidup. Seorang diri.

Aku tidak lagi merasakan adanya sebuah keluarga yang hangat di rumah ini seperti yang pernah kudambakan dulu. Aku sudah membenamkan semua perhatianku pada hal-hal di luar rumah karena aku berusaha untuk lari dari ketidaknyamanan ini. Membunuh waktu.

Tidak ada lagi keceriaan di rumah ini lagi, walaupun para malaikat kecil itu telah berulang kali berusaha untuk menghiburku. Yang kurasakan hanya hambar dan tidak bergairah. Ada apa denganku? Aku seperti kehilangan separuh jiwaku. Aku tidak lagi menemukan dirinya di dalam hatiku.

Cinta. Apa itu? Rasanya familiar. Tapi kali ini aku pun buram dengan definisi cinta sehingga aku pun ragu apakah aku masih mencintainya atau hanya menjalankan sebuah komitmen yang pernah disepakati di depan ribuan orang dan jenazah ayahku.

Kini, aku selalu berusaha untuk mencari kebahagiaan di luar sana. Aku berusaha mendapatkan apa yang bisa memuaskan diriku di luar sana. Mencari apa yang tidak bisa kudapatkan di rumah. Apakah harus begitu? Saat ini, mungkin itu yang bisa membuatku tersenyum. Hampir aku lupa dengan tersenyum, apalagi jika berada di rumah.

Aku rindu keluarga kecilku. Aku rindu bersenda gurau, bercanda dan tertawa bersama. Kemana keharmonisan yang biasanya menghiasi rumah ini, yang selalu membuat semua orang berdecak kagum? Di mana kebahagiaan di rumah ini? Aku rindu. Mungkinkah bisa terwujud?

Ada apa denganku? Ada apa denganmu? Ada apa dengan kita?

Tuhan. Di mana diriMu? Atau aku yang melewatkanMu?

Biasanya aku selalu berkeluh kesah terhadapNya. Tuhan. Sang Maha Dasyat. Yang selalu kusebut-sebut di dalam semua tulisanku. Yang selalu kusyukuri keberadaan dan cintaNya kepadaku.Yang selalu kutemui dalam senang dan galauku. Rindu rasanya bertemu denganNya. Aaarrgghh! Hubunganku denganNya yang seharusnya kekal pun sudah lama kulupakan. Ada apa denganku?

Waham kebebasan yang selama ini kupegang telah membelenggu seluruh kehidupanku. Kali ini aku akui itu dan aku harus bisa jujur kepada diriku sendiri. Pembenaran-pembenaran yang selama ini kucari-cari memang sudah absolut tidak terbukti adanya. Jadi apalagi yang kucari? Mungkin belenggu ini, kegalauan ini, telah menjadikanku mencari kebagiaan duniawi, dan itu untukku sendiri, bukan untuk siapa-siapa bahkan anak-anakku sendiri, darah dagingku, dan ibuku, orang yang berjiwa besar yang telah melahirkan aku, maupun suamiku, orang yang berada di rumahku selama tujuh tahun ini.

Maafkan Ibu, Nak. Ibu sedang egois.

Maafkan aku, Ma. Aku sedang egois.

Maafkan aku, Beh. Aku sedang egois.

Mungkin memang benar yang dikatakan oleh Ustadz Jefri. Aku harus bisa memaksakan diriku untuk memulai lagi hubungan baikku dengan Allah SWT, sang penciptaku. Seperti kata Hamid dan Agung, bahwa aku harus bisa mengingat kembali apa yang menjadi perjanjianku denganNya sebelum ruhku dihembuskan ke dalam ragaku. Tidak dengan caraku saja, tetapi dengan segala kesepakatan yang telah ditetapkan. Aku harus belajar disiplin. Aku harus belajar untuk lebih menyayangiNya, juga jiwa dan ragaku. Tidak untuk orang lain, tapi untuk diriku sendiri.

Segitunyakah aku mencintai diriku sendiri?

Diri yang sudah mulai penat dengan semua ini.

Kamar Mandi, 8 Juli 2010, 1:20 dini hari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s