Sekolah Itu…


Tuhan, yang sewaktu itu kusebut sebagai Scriptwriter yang Maha Dasyat, kali ini memberikanku kembali sebuah pelajaran berharga. Ia begitu mengertiku. Memberikanku banyak kesempatan untuk mencoba hal-hal yang kuingin lalui dan memberikan pesan terselubung di balik tangan-tangannya yang menggapaiku melalui kebetulan-kebetulan. Bersyukur aku mengenal Tuhan, walaupun aku bukan seorang yang agamais, tetapi aku sangat percaya kepadaNya dan selalu ingat denganNya melalui cara-caraku sendiri.

SDN 01 Bukik Limbuku

Kali ini adalah perjalananku melaksanakan panggilan hati di sebuah sekolah dasar negeri di daerah yang kaya dengan lembahnya. Begitu indah. Begitu asri dan alami. Aku menyukai tempat ini. Selain mengingatkanku akan kampung halaman ayahku, aku pun menyukai daerah-daerah ala kampung.
Sekolah itu. Tidak ada yang istimewa darinya. Dan ini adalah kali pertamaku menginjakkan kakiku di sana, mampir untuk beberapa saat setelah kembali bertugas dari kota metropolitan terdekat dari ranah Minang. Niat untuk mampir sudah dipautkan sejak berangkat ke kota Pekanbaru itu. Sekitar enam bulan yang lalu, salah seorang teman yang sangat kuhormati menelponku karena ia baru diangkat menjadi seorang kepala sekolah.

“Bu Miya, Yosi sekarang sudah jadi kepala sekolah. Sudah hampir satu semester.” katanya dengan nada riang di seberang sana.
“Wah, selamat ya, Bu! Senang sekali mendengarnya.” jawabku tak kalah antusias. Sampai-sampai teman-teman kantorku terkejut dengan suara kerasku.
“Iya. Terima kasih, Bu. Makanya sekarang Yosi telpon Ibu Miya. Yosi nggak punya pengalaman me-manage sekolah. Mohon bantuannya, Bu.” pintanya sopan.
“Ahh, Ibu. Saya juga masih belajar kok, Bu.” kataku malu-malu.
“Ya, tapi kan Ibu Miya selangkah lebih maju dari saya. Saya pengen program-program yang kreatif kayak di sekolahalam diterapkan di sekolah ini buat pengembangan. Tapi saya nggak ngerti. Makanya saya mau minta bantuan Ibu.” ceritanya lugu.
“Oo, gitu. Boleh, boleh. Jangan takut, Bu. Nanti pasti akan saya bantu. Tapi saya sekarang masih terikat kontrak dengan organisasi, jadi belum punya waktu luang. Nanti saya cari waktunya ya, Bu.” jelasku singkat tapi pasti.
“Iya, nggak apa-apa, Bu. Yang penting saya sudah minta tolong sama Ibu. Saya akan tunggu waktu luang Ibu.” katanya memaklumi.
“Ya, pasti akan saya carikan waktunya. Nanti akan saya kabari lagi.” balasku.

Itu pembicaraan lewat telpon enam bulan yang lalu. Aku selalu mencari waktu untuk itu tetapi aku tidak pernah sempat karena banyaknya pekerjaan tertunda yang harus kukerjakan karena aku terikat kontrak dengan salah satu organisasi internasional dalam rangka bantuan kemanusiaan untuk korban gempa Pariaman 2009 yang lalu. Sampai akhirnya aku mempunyai kesempatan untuk membantu salah satu sahabatku di Pekanbaru untuk mentraining staff sekolahnya yang baru.

Langsung kumasukkan jadwal kunjungan ke sana sebelum ke Padang dan kuberitahu Ibu Yosi, sang kepala sekolah, yang memberikan respon yang antusias seperti biasanya. Ahh, Ibu ini. Aku selalu takjub dengan cerita-ceritanya dan kecintaannya dengan pendidikan. Tak heran ia pernah menyandang gelar guru teladan di daerah ini. Aku angkat topi untuknya.

Ibu Yosi Gumala, sang Kepala Sekolah.. (in the courtesy of Agung Febrian)

Pertemuanku dengan Ibu Yosi terjadi di tahun 2006. Ketika itu aku dan rekan-rekan sekolah mengadakan outing ke kampung papa dengan maksud ziarah karena aku sedang melanjutkan cita-citanya untuk membuat sekolah. Sebuah kehormatan untukku.

Karena sudah tidak tahu lagi mau kemana, tiba-tiba aku teringat sebuah informasi yang kudapat setelah aku mengubek-ubek Mbah Google pada tahun 2001. Tepatnya di kawasan wisata Harau. Aku menemukan sebuah homestay bak sebuah oase. Begitu natural dan indah. Tapi saat itu aku hanya melihat foto-fotonya di halaman elektronik, dan ketika kutanyakan kepada teman-teman sesama pekerja travel agent, mereka pun tidak ada yang mengetahuinya. Maka homestay itu tidak pernah masuk ke dalam jadwal jajahanku sejak tahun itu.

Jadi, kuputuskan untuk mengajak teman-temanku ke sana.

Kami pun suka cita berangkat ke sana, sambil melihat-lihat ada apa saja di Harau yang bisa dijelajah. Kami mampir di beberapa spot: air terjun, hutan raya dan kebun binatang yang miskin dengan binatang. Setelah foto-foto dan menyayangkan dengan potensi yang bagus tetapi dikelola dengan tidak baik, kami pun akhirnya putar haluan kembali ke arah kota, sambil celingak-celinguk di mana gerangan homestay yang kulihat di dunia maya. Aku melihat sebuah bangunan antik agak jauh di seberang sesawahan. “Mungkin itu.” pikirku sambil membelokkan mobil ke area parkirannya dan diikuti rombongan belakang.

Kami pun turun dari kendaraan dan menelusuri jembatan gantung yang terbentang di atas sebuah sungai yang tenang dan mempunyai plang “Dilarang Memancing Ikan Larangan”. Terlewati jembatan, kami pun berjalan di atas jalan setapak beton yang terhampar membelah sawah-sawah dan terus mendaki bukit hampir 45 derajat dan berbelok tajam.

pemandangan ECHO Homestay dari pinggir jalan raya. (in the courtesy of Abi Qadar)

Tidak terlihat apapun di sepanjang jalan, kecuali sebuah bangunan tidak menarik di atas bukit kecil itu.

Pas ketika tanjakan habis, barulah pemandangan indah terpampang di depan wajah-wajah yang keletihan akibat mendaki jalanan yang tajam. Oase itu. Sangat indah dan baru pertama kali dalam sejarahnya aku bertemu tempat yang cozy seperti ini di kawasan Sumatera Barat.

Cottages in Echo Homestay, Harau (in the courtesy of Abi Qadar)

Homestay itu, lebih tepatnya disebut cottage, sangat natural. Semua bangunannya berbahan kayu dan beratapkan ijuk. Setiap bangunan mempunyai rancangan yang berbeda. Asesorisnya pun jadul punya. Saklar lampu yang rumah-rumahannya berbentuk bulat, berwarna hitam dan kalau dipetik berbunyi “tik”. Tempat-tempat tidur yang kepalanya terbuat dari kayu-kayu bekas. Meja dan kursi yang terbuat dari material-material natural yang daur ulang. Sangat etnik. Aku sangat menyukainya.

Terlihat seperti orang-orang kampung yang kebingungan, kami pun disapa oleh seorang laki-laki muda.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya.
“He-eh. Kami dari Padang. Ingin lihat-lihat. Bisa ketemu dengan pengelolanya?” jawabku seraya sedikit mengenalkan diri.
“Oo, iya. Sebentar ya. Beliau sedang shalat Maghrib.” jawabnya.
“Oo, OK. Kami bisa numpang shalat juga ya?” tanyaku lagi.
“Iya, bisa kok. Di sana mushallanya. Tapi sedikit ngantri karena tempatnya sedikit kecil.” jelasnya.
“Ya, nggak apa-apa kok. Kami bisa sambil lihat-lihat.” kataku, mengisyaratkan kepada laki-laki itu untuk tidak terlalu khawatir dengan kedatanganku dan teman-teman.

Kami pun terpencar. Ada yang ke utara, ada yang ke selatan, barat dan timur. Seperti arah mata angin. Aku tidak terpencar. Aku tetap terpana, berdiri pada suatu titik dan hanya berputar-putar di tempat, memandangi pemandangan sekelilingku dengan takjub. Masih tidak percaya rasanya.

Saking terpananya, aku pun tak menyadari ketika seorang wanita, dengan mukena dan sarungnya, mendatangiku dan menyapa ramah.

“Selamat sore. Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya.
“Selamat sore, Ibu. Saya, Miya, dari Padang. Kami ingin lihat-lihat. Waktu itu saya pernah lihat tempat ini di internet tahun 2001. Tapi belum sempat ke sini. Baru sekarang ada kesempatan. Tempatnya bagus ya, Bu. Baru sekali ini saya ketemu tempat seperti ini di sini.” jawabku, seraya menjulurkan tangan untuk berjabatan.
“Terima kasih. Iya, memang kami tidak ada promosi. Promosi kami hanya lewat mulut ke mulut. Dulu waktu yang punyanya masih orang Jerman, dia pun promosinya hanya di internet. Makanya nggak banyak orang tahu tentang tempat ini.” jawabnya menjelaskan.
“Oo, yang punya orang Jerman?” tanyaku lagi.
“Dulu iya. Dia juga yang bangun karena istrinya orang sini.” jawabnya lagi.
“Oo, gitu. Pantesan apik. Detail banget. Saya senang dengan tempatnya. Coba sekolahan saya di sini tempatnya ya, pasti jadinya bagus.” kataku.
“Sekolah? Ibu punya sekolah? Di mana?” jawabnya ingin tahu.
“Iya. Namanya Sekolahalam Minangkabau. Kita baru buka di Padang.” jawabku tak kalah bangga.
“Ini Ibu Miya yang di koran itu ya? Aduh, Yosi ngefans sekali sama sekolahalam. Sampai sekarang masih Yosi simpan semua kliping-klipingnya.” katanya tak kalah takjub.

Terharu, pastinya. Ternyata di negeri pelosok pun masih ada orang yang sangat peduli dengan pendidikan. Setelah perbincangan yang cukup panjang, baru kuketahui Ibu Yosi telah mengikuti perkembanganku dan sekolahanku melalui media koran. Ahh, senangnya diperhatikan. Rasanya ingin kumenangis dan memeluk Ibu Yosi. Kami pun banyak bertukar cerita dan dari sana kutahu bahwa ia pernah mengajar di pedalaman Riau selama 9 tahun. Salut. Ia telah menjadikan dirinya berguna untuk orang lain selama bertahun-tahun, sedangkan aku belum sama sekali. Merasa belum berguna. Dari perbincangan itulah, aku menjadi tambah respek dengan tempat ini, yang di kemudian hari, aku selalu merekomendasi orang-orang di sekitarku untuk mengunjungi tempat itu, tak tinggal rombongan-rombongan training dari segala penjuru kubawa ke sana.

Kami pun berteman dekat. Aku selalu membawakannya buku-buku terbaru dan bagus setiap kudatang ke sana, agar ia tetap up-to-date dengan perkembangan pendidikan yang ada di luar sana.

Kali ini kedatanganku sangat ditunggu-tunggunya. Aku tahu, pasti ia tidak mau berharap banyak karena takut kecewa. Tapi ketika kumendaratkan kakiku malam-malam di rumahnya, matanya tidak bisa membohongiku bahwa ia sangat senang.

Esok siangnya, usai anak-anak sekolah dasar itu selesai ujian, aku dan beberapa rekanku datang mengunjungi sekolah itu. Sedikit tersasar, akhirnya sampai juga di tempat yang dituju. Sekolah itu seperti tidak ada perawatan yang berarti. Banyak bangunan yang terbengkalai. Setelah kutanya, ternyata itu adalah bekas perumahan guru. Halamannya cukup luas dan akan sangat bermanfaat jika dikelola dengan baik.

Aku pun diboyong ke dalam ruang guru. Di sana sudah menunggu beberapa orang guru. Aku dan rekan-rekan pun saling bersalaman dan berkenalan. Ibu Yosi memperkenalkanku dengan kata-katanya yang sangat menyanjung dan membiaskan respek yang sama besar dengan respekku terhadapnya. Ibu-ibu yang duduk di sekeliling ruang guru itu pun mendengarkan, ada yang seksama dan ada juga yang seadanya. Tapi tak apalah.

Ibu Yosi pun menjelaskan harapan-harapan yang ia taruh di bahuku, untuk membantunya dan rekan-rekan guru untuk membenahi sekolah yang sudah terancam tutup itu. Mendengar status terancam tutup itu, aku pun turut prihatin. Aku pun memberikan sedikit motivasi bahwa mereka bisa berbuat lebih baik lagi. Tapi ternyata bukan itu yang mereka harapkan dariku, mereka sepertinya membutuhkan action. Hmm, apa ya..?

Aku yang sedang berdialog.. (in the courtesy of Agung Febrian)

Teringat bahwa aku masih membawa LCD proyektor sekolahan dan netbook di tasku, langsung kuminta pertolongan Agung untuk mempersiapkan layar tancap seadanya di ruang guru itu. Melihatku dan Agung yang antusias, mereka pun ikut berbinar. Aku pun melihatkan semuanya tentang sekolahanku. Dan dalam prosesnya, yang terlihat olehku adalah mulut-mulut yang berucap pelan, “Ooo…”.

Ya itulah, awal mula bagaimana aku bisa terdampar di homestay ini lagi sekarang dan lagi untuk ke depannya. Hampir setiap dua minggu aku datang ke sini. Pemilik homestay sepakat untuk memberikanku sebuah tempat tinggal cuma-cuma selama aku di sini sebagai bentuk kontribusi untuk perbaikan pendidikan anak nagari setempat.

Rencana perubahan yang kubawa cukup banyak. Satu ketakutanku bahwa mereka akan berdiri dengan kepala mereka di bawah dan kaki di atas, karena yang paling utama adalah mereka harus bisa merubah paradigm dan kebiasaan mereka dalam mengajar. Itu intinya. Tetapi melihat semangat mereka, walaupun tidak semuanya, yang sangat berkobar, aku yakin mereka pasti bisa walaupun perlahan. Tinggal kesabaranku, teman-temanku dan lingkungan yang dituntut untuk bisa tetap konsisten.

Kita lihat apa kelanjutannya…

Echo Homestay & Bedudal Cafe, 1-4 Juli 2010

*buat teman-teman yang mau memberikan sumbangsih: tenaga, moril maupun materil, bisa menghubungi saya langsung.. =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s