Dia Menyebut Dirinya Za!


Hari ini aku melangkahkan kaki keluar rumah sehening mungkin, takut jagoan kecilku tahu pasti dia akan ngekor kemana aku pergi. Hari ini aku harus menyendiri, berkutat dengan folder-folder yang sudah menahun di lemari untuk kembali aku cek dan menyerahkannya kepada yang berwajib.

Tidak ada mimpi buruk yang menyelimuti tidurku tadi malam dan tidak pernah terbayangkan olehku untuk bertemu dia lagi.

Ya, dia! Dia menyebut dirinya Za!

 

 

 

 

 

 

 

Pertama kali aku bertemu dengannya pada perayaan ulang tahun salah satu provider telepon selular ternama di Indonesia. Saat itu aku tertunjuk untuk menjadi seksi repot. Pagi-pagi sudah standby di kantor tersebut dan menyiapkan segala sesuatunya: memakaikan baju-baju customer service yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng, menyusun penganan-penganan kecil beserta minumannya dan memastikan kembali dekorasi yang kukerjakan selama seminggu itu tetap pada kondisi prima.

Dalam prosesnya, aku disapa oleh Za dan ditanya apakah hari itu adalah hari ulang tahun provider telepon selular itu. Dan aku mengiyakannya dengan sopan. Dan kemudian ia bertanya lagi apakah perayaannya ditujukan untuk umum. Dan aku menjawab bahwa perayaan itu hanya untuk orang-orang internal dan pelanggan yang datang. Kemudian aku berpamitan karena masih banyak barang-barang yang harus kuunload. Sial! Si Vina hanya menyusun kue-kue dan minuman itu, sementara aku harus menurunkan 5 box air minum dan 5 nampan jajanan pasar. Tapi tak apa, salah satu usaha untuk mengecilkan badan. Ha!

Setiap kali aku menuju mobil, setiap kali ia bertanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama. Kupikir awalnya ia adalah seorang wartawan, melihat dari penampilannya yang cuek dan pakaian yang seadanya. Kesan pertamaku adalah wartawan ini malas mandi. Tapi aku cuek saja.

Berhubung aku harus mondar-mandir hampir sepuluh kali, dan sebanyak itu pula ia bertanya hal yang sama. Maka kuputuskan untuk bertanya pada salah satu satpam yang kukenal.

“Bang, siapa sih cewek itu?” tanyaku.
“Ahh, nggak usah ditanggepin. Tuh cewek agak stress.” jawabnya santai.

Terjawablah sudah pertanyaan tentangnya. Ternyata dia sedikit linglung alias stress. Patutlah ia berpakaian lusuh, dengan rambut yang tak disisir dan langsung diikat, dengan map-map yang ada di tangannya, serta tas tangan yang juga tak kalah lusuh. Sempat terpikir ia mau melamar kerja di perusahaan ini. Tapi ternyata, ia sedang stress.

Selesai ku berbenah, aku dan Vina langsung masuk mobil dan aku tersenyum kembali padanya menandakan bahwa aku mau pergi. Ia, yang sedang duduk di pelataran parkir, pun tersenyum padaku. Tanpa pikir panjang lagi aku pun pergi dan melupakannya.

Hari ini, ketika aku baru saja balik dari kelas TK untuk mengambil obat nyamuk, aku dikejutkan oleh sapaan spontan dari seorang wanita yang berdiri di pagar sekolah.

“Eh, Kakak!! Tinggal di sini Kakak?” teriaknya.

Aku pun tergagap menjawab, “Euhh, nggak. Ini kantorku.” sambil memutar ingatanku siapa gerangan yang menyapaku pagi ini dengan semangat ’45. Alamakkk!! Ternyata dia!

“Kak, boleh minta jambunya? Sepertinya segar banget nih.” tanyanya bersemangat sambil berputar-putar di sekitar pohon jambu andalan sekolahku.

“Ambil aja. Bisa manjat nggak?” jawabku spontan.

“Kakak nggak punya tongkat galah?” tanyanya lagi sambil menaruh barang-barangnya di bilanganpaving block.

“Hmm.. Itu ada. Pakai itu saja.” tunjukku pada sebuah sapu sarang laba-laba yang sudah disematkan botol air mineral bekas oleh murid-muridku.

Dan ia pun mengambil galah itu dan berusaha mengambil jambu-jambu yang sebagian sudah mulai merah merekah. Sambil memandangi ia melompat-lompat, aku pun mendekati salah satu tukang yang ada di halaman. Aku pilih tukang yang agak jauh dari pohon jambu supaya Za tidak mendengar apa yang akan kukatakan pada si tukang.

“Mang, tolong awasin ya. Dia agak stress soalnya. Aku mau ke dalam dulu.” pintaku.
“Oo, iya, Bu. Nanti saya bantu awasin.” jawabnya patuh.

Langsung aku kembali ke dekat pohon jambu dan berkata, “Kak, aku kerja dulu ya. Ambil aja jambunya sebanyak yang Kakak mau.”

Aku pun masuk ke ruanganku dan mulai menyiapkan perlengkapan kerjaku. Dimulai dengan mengupdate status di facebook, melongok ke beberapa profil teman-temanku dan sekolahan, dan akhirnya menyiapkan folder-folder yang akan kulahap hari ini. Teringat akan kamera, aku pun menyiapkan kameraku untuk mengabadikan moment kedatangan tamu ini.

Tiba-tiba sebuah suara mengejutkanku. Ternyata ia sudah ada di dalam ruanganku tanpa permisi! Danggg!! “Oh My God, what should I do? Be calm, Miya. You can handle this!” kataku dalam hati. Aku pun berusaha tenang tanpa terlihat kaget sedikit pun dan menghadapi Za yang terkagum-kagum dengan bangunan yang sedang kubangun, yang menurutnya adalah rumah anti gempa. Aku tertawa dalam hati. Mau meralat kata-katanya tapi menurutku percuma saja, nanti malah aku yang jadi gila.

Ia berusaha untuk tetap stay di dalam ruanganku hingga saat matanya tertuju pada setumpuk buku-buku yang baru kubeli. Tanpa ba bi bu, ia langsung hinggap di kursi yang biasa diduduki Hamid dan mulai melihat-lihat buku-buku tersebut.

Buku pertama yang ia buka adalah Madilog.

“Wah, bukunya banyak ya. Kakak suka baca buku ya. Beli di mana? Gramed?” tanyanya bertubi-tubi.

Baru aku mau menjawab, dia sudah nyerocos berbicara tentang minat-minatnya dan sedikit kehidupannya. Mulai dari Abu Rizal Bakri sampai anak-anak SMP yang ia lihat menghisap shabu, menurutnya, di bilangan jalan Khatib Sulaiman. Baru kutahu bahwa dia sangat ngefans dengan provider telepon yang jadi clientku itu, juga kagum dengan partai uzur yang berwarna kuning dan sangat benci dengan RI 1 saat ini dan juga Barrack Obama. Setelah kupautkan ceritanya dan apa yang kualami, pantaslah ia ada di saat perayaan itu dan juga ikut menyambut kedatangan Abu Rizal Bakrie kemarin di Pangeran Beach Hotel.

Dan dia juga sudah menjudgeku berprofesi sebagai fotografer karena melihat kamera yang akhirnya kuletakkan saja di atas meja. Pasrah.

Akhirnya kuputuskan untuk mendengarkan saja. “Mungkin ia butuh didengar.” pikirku.

Mataku pun tertuju kembali kepada netbook dan facebook. Mulai mengupdate statusku yang sebenarnya dan tertawa hening melihat komentar-komentar teman-temanku. Sebersit di dalam hati merasa kasihan pada Za, dan sebagian lagi merasa telah menjahati Za melalui jaringan sosial ini. Tapi ya sudahlah, aku pun sebenarnya sedikit khawatir kalau-kalau dia impulsif dan melakukan hal-hal anarki. Pikiran yang bodoh.

Karena tekadku untuk mengabadikan moment ini, maka kuambil kameraku dan mulai membidiknya.

“Kak, aku foto ya? Semua orang yang ngunjungi saya harus saya foto.” kataku sebagai syarat pertemanan.

“Ahh, Kakak ini. Janganlah.” jawabnya tersipu-sipu malu tapi tidak menolak.

Akhirnya. Klik! Terpotretlah moment Za duduk di kursi Hamid sambil melihat-lihat buku. Tak puas dengan foto, maka kuambil videonya secara candid. Karena baterainya sudah sekarat, maka tidak dapat semuanya, hanya durasi 10 menit. Yang terekam adalah ocehan-ocehannya yang menunjukkan bahwa ia orang sakit jiwa yang mempunyai wawasan luas. Terlontar pujian untuk dirinya sendiri di setiap akhir cerita, mencirikan ia orang yang berwaham.

Tak lama kameraku kehilangan nyawa, Agung pun datang untuk menemaniku menghadapi Za. Ohhh, terima kasih, Agung. Ketika Agung tiba, Za sedang membuka-buka buku Madilog yang kedua kali.

“Tahu sama Tan Malaka nggak?” tanya Agung takjub dengan pengetahuannya sangat luas karena ocehan yang muncul seputar perpolitikan, pelet dan santet, mal dan pasar, pilkada, presiden, Barrack Obama, sampai ke polisi-polisi itu.

“Tan Malaka itu asalnya dari Makasar kan?” tanyanya balik, yang mengingatkanku akan temanku Tyas yang mengatakan kalimat yang sama. Gubrakkk!!

Walaupun ia, yang mengaku alumni SMA 1 Padang dan ISTN di Jakarta jurusan Hukum, adalah orang yang sudah kehilangan alam sadarnya, tapi ia adalah orang stress yang hebat dengan wawasan yangup-to-date. Atau karena baru sekali ini aku bercakap-cakap dengan orang stress?

Bosan dengan ocehannya yang selalu kutanggapi, Agung hanya memilih untuk menemani kami sesaat, ia pun pergi ke pustaka dan memutuskan untuk memantau dari jauh saja.

Lagi-lagi aku yang harus mendengarkannya seorang diri. Tapi tak apa. Aku pun banyak belajar dari dia. Belajar untuk sabar, belajar untuk mendengarkan, belajar untuk melawan rasa takut, de el el.

Terlintas di pikiranku, apa yang ia rasakan? Mengapa ia bisa begini? Di mana keluarganya? Apakah ia lari dari rumah? Di mana ia tinggal? Apa yang ia lakukan di jalanan? dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepalaku setiap saat aku menemui situasi-situasi yang tak kupahami.

Aku merasa kasihan mendengar cerita-ceritanya bahwa ia selalu dikawal kemana-mana oleh polisi jika ia berada di keramaian. “Macam buronan saja aku, Kak.” katanya curhat. Tapi ia tak menyadari mengapa ia dikawal dan percaya saja dengan seribu alasan yang dikemukakan oleh polisi-polisi itu.

Ingin rasanya meneruskan percakapan yang tiada ujung ini, tapi apa daya, aku masih punya bejibun tugas yang harus kuselesaikan dalam waktu beberapa hari ini. Mau tak mau akhirnya kutanyakan kapan ia akan pergi. Mengusir secara halus, kasarnya. Tak lama pun, sesuai dengan kesepakatan ia pun pergi dan membawa barang-barang gombalnya.

Hari ini aku terinspirasi dengan sebuah cita-cita. Aku ingin suatu saat nanti, jika aku diberi rezeki dan umur panjang, bisa membuat sebuah rumah penampungan untuk orang-orang seperti Za. Mereka adalah minoritas, tapi butuh untuk diperjuangkan. Karena mereka sudah tidak punya akal sehat. Kemungkinan-kemungkinan untuk dilecehkan sangatlah besar dan mereka tidak menyadari itu dan mereka tidak peduli.

Well, ada yang berminat untuk bergabung?

Kamar Mandi Pribadi, 27 Juni 2010 pukul 23.50 WIB

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s