Fenomena Pilkada Sumbar


Perjalananku menuju Payakumbuh di satu sisi menyenangkan karena ketidaksabaranku untuk memuaskan batinku membenahi sebuah sekolah nun jauh di kecamatan Harau, Kabupaten 50 Kota. Selain itu juga, salah satu upayaku untuk menghindari hiruk pikuk permasalahan hidup yang tak kunjung selesai. Well, that’s life. Problems are like stars that decorate the night sky. Without problems, life would be so flat.

Sepanjang jalan, seharusnya yang kuperhatikan adalah pemandangan alam Sumatera Barat yang sangat indah. Tapi kali ini yang kulihat adalah foto-foto para calon pemimpin yang terpampang di hampir seluruh billboard, tiang listrik, rumah-rumah penduduk, tempat-tempat keramaian, angkutan umum, hingga ke motor becak. Kalau kata temanku yang kerja di bagian branding perusahaan besar, prinsip branding masa kini: TEMPEL SELAGI KOSONG! Bah!

Pemandangan ini membuatku menerawang dan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan retorik yang sepertinya hanya bisa dijawab oleh orang-orang yang fotonya terpampang di sana, atau tim suksesnya, atau siapa sajalah.

Pertanyaan yang paling dominan muncul di kepalaku adalah “Berapa mereka menghabiskan biaya untuk ini semua?”. Pertanyaan ini muncul mungkin karena memang aku sedang kekurangan dana untuk membangun sekolahku. Miris rasanya membayangkan besarnya biaya yang dikeluarkan untuk hal-hal yang tak penting itu. Mungkin kalo mereka menyumbangkan sedikit dari biaya-biaya itu ke sekolah-sekolah seperti sekolahku atau sekolah yang akan kubantu benahi di Bukik Limbuku itu, pasti akan lebih berarti. Mengingat masih banyaknya sekolah-sekolah, tempat mendidiknya generasi penerus bangsa ini, yang masih sangat miskin. Bahkan ketika kumelakukan assessment di Bukik Limbuku itu, seorang pegawai honor yang mengajar di sana hanya bergaji sebesar Rp. 100.000 per bulan. My God!!

Ketika perjalanan dari Payakumbuh ke Bukittinggi, tepatnya di Pasar Sari Lamak, kendaraan kami harus menghadapi macet yang lumayan panjang. Setelah ditelusuri ternyata sedang ada kampanye salah satu calon gubernur di sana. Hmm.. Muncul lagi pertanyaan bodoh di kepalaku, “Ketika pencalonan, kenapa para calon-calon itu rajin mengunjungi masyarakat hingga ke pelosok. Ketika sudah terpilih, apakah mereka sudi untuk mengunjunginya kembali?”. Jawabannya mungkin tidak.

Itulah manusia. Kalau sedang ada maunya, akan melakukan apa saja untuk kepentingan-kepentingannya sendiri. Tapi ketika kepentingan itu sudah terpenuhi, mereka akan melupakan usaha-usaha dan siapa saja yang telah memilih mereka.

Menurutku proses pemilihan umum sekarang sangatlah menyedihkan. Orang berlomba-lomba untuk mencalonkan diri untuk menjadi pemimpin. Pertanyaanku lagi, “Apakah untuk menjadi seorang pemimpin itu harus dicalonkan?”, “Mengapa mereka berlomba-lomba untuk mencalonkan diri?”. Mungkin jawaban idealisnya adalah karena mereka ingin membangun negeri ini. Muncul lagi pertanyaan, “Apa benar mereka yang telah terpilih telah memberikan sumbangsih yang ikhlas, tulus?”

Aku kali ini merindukan pemimpin yang tidak mencalonkan diri, tapi memang benar-benar ditunjuk oleh masyarakatnya sendiri, tanpa adanya kepentingan-kepentingan di belakangnya, tanpa adanya gaya kampanye yang lux–perlombaan bagus-bagusan alat pendukung kampanye, foto-foto dengan gaya menjual diri ke masyarakat, dan janji-janji muluk yang entah kapan akan terealisasikan.
Jika pemimpin memang benar-benar ditunjuk oleh masyarakat, kemungkinan besar permasalahan-permasalahan yang ada di negeri ini dapat diselesaikan dengan baik, karena tidak adanya kepentingan-kepentingan menjebak dibelakangnya.

Arrgghhh.. Rindu aku akan demokrasi terpimpin seperti yang pernah diusung oleh Soeharto. Rindu aku akan kedamaian di negeri ini. Entah kapan itu terjadi..

Hotel Campago, 20 Juni 2010 17:08

Advertisements

2 responses

  1. begitulah kondisi pemerintahan di negeri ini

    February 21, 2011 at 3:07 pm

  2. Ya, apa mau dikata..
    Inilah negara bodoh yang sangat aku bela (Koil)
    😀

    February 21, 2011 at 3:54 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s