sekolahalam minangkabau.. sebuah awal perjalanan


Hening. Malam yang sedang kulalui di Echo Homestay, Harau, dengan kesulitanku untuk tidur. Padahal esok aku sudah berjanji dengan Ibu Yosi untuk mengunjungi sekolah yang sedang dipimpinnya. Malam ini yang ada hanyalah lolongan anjing di luar sana, lengkap dengan gemanya yang tujuh tingkat, seperti ayam kokok tujuah lenggek. Oh My God!! What a spooky night.

Di kesunyian ini, aku kembali mengingat perjalanan hidupku, mulai menorehkannya di atas kertas elektronik sehingga kelak aku tetap ingat semuanya dikala aku sudah mulai kehilangan ingatanku satu per satu, atau jika aku tidak berumur panjang, aku bisa memberikan sedikit pengetahuan tentang diriku kepada anak-anak dan cucu-cucuku nanti bagaimana kehidupan ibu dan neneknya dulu.

Ahhh.. Tuhan adalah scriptwriter yang begitu hebat. Beliau membuat semua skenario hidup kita satu per satu. Begitu hebatnya karena bermiliaran makhluk hidup yang ada di bumi yang harus dipikirkanNya.

Sebagai manusia, aku tidak pernah secara nyata melihat atau tersentuh tangan-tangan Tuhan secara harfiah karena Beliau sudah disibukkan dengan kepentingan seluruh makhluk ciptaanNya. Yang kurasakan, tangan-tangan ajaib Tuhan selalu menyentuhkan melalui berbagai kebetulan-kebetulan.

Dan, Teman, kebetulan itu tidak hanya kurasakan satu kali, tetapi hampir di setiap hari ada kebetulan-kebetulan itu yang datang di kehidupanku.

Hari itu aku sedang iseng mengobrak-abrik toko buku terbesar di kota Padang. Sudah merupakan hobi lamaku mengunjungi toko buku dan membeli buku-buku yang kuminati, walaupun buku-buku itu nantinya kuserahkan pada Aza, si librarian SAM, atau kusimpan di rak bukuku tanpa menanggalkan plastik segelnya. Kali ini mataku tertuju pada satu buku yang berjudul “Sekolah yang Membebaskan”. Buku itu sudah sedikit lusuh, seperti kurang peminatnya dan stoknya hanya tinggal satu-satunya. Buku itu juga sudah tak bersegel. Karena penasaran, kubuka dan kubaca kata pengantarnya. Oo, ternyata buku itu menceritakan pengalaman-pengalaman murid, orang tua dan guru sekolahalam.

Speaking of Sekolahalam, aku teringat pada dokter anak pertama langgananku, Ibu Parma Oemi. Ibu yang sangat baik dan sangat informatif kepada semua pasiennya, apalagi para orangtua-orangtua muda seperti aku saat itu. Pernah sekali kuundang Beliau untuk datang ke pertemuan pertama orang tua murid Pelita Aksara Child Care & Education untuk menjadi tempat konsultasi masalah parenting. Ketika selesai acara, dalam perjalanan dari bangunan sekolah ke mobil yang kusiapkan untuknya, Beliau merekomendasikanku untuk mengembangkan sekolah ini menjadi sekolahalam karena menurutnya sekolah tersebut sangat bagus untuk anak-anak. Tapi saat itu yang kulakukan hanya mengiyakan tanpa memikirkannya secara serius. Pernah kudengar sekelebit tentang sekolahalam, tapi tidak pernah kumasukkan ke hati untuk ditelusuri lebih dalam, hingga saat aku mendapatkan buku tentang Sekolahalam tersebut.

Buru-buru kubeli buku tersebut dan membawanya ke kantorku. Sesampai di kantor, tak sabar kubaca buku itu dengan sepenuh hati. Dimulai dari kata pengantar hingga masuk ke Bab 2. Sampai di Bab 2, aku berhenti membaca dan kembali ke kata pengantar yang merinci siapa penggagas sekolahalam tersebut. Langsung kutemukan paragrafnya dan kubaca ulang. Ternyata namanya adalah Lendo Novo, seorang alumni ITB. Tanpa pikir panjang, kuputar nomor kakak sepupuku yang juga berasal dari perguruan tinggi yang sama dengan Bang Lendo, begitu ternyata panggilan akrabnya.

“Un, bisa minta tolong gak?” tanyaku.
“Bolehlah. Ada apa tuh?” suara di telpon bertanya balik.
“Begini, Un. Miya baru baca buku tentang Sekolahalam. Penggagasnya namanya Lendo Novo. Uni tahu gak?” jelasku.
“Oo, iya. Uni tahu. Beliau kemaren calon ketua alumni. Emang kenapa, Mi?” tanyanya lagi..
“Miya pengen ketemu orangnya. Bisa minta tolong cariin nomor telponnya gak?” bujukku kepada Uni Shanty, nama kakak sepupuku itu.
“Hmm, Uni coba ya. Kayaknya bisa deh. Ntar Uni hubungi Miya lagi.” Jawabnya meyakinkan.
“OK, Un. Makasih ya sebelumnya ya, Un.” Ucapku, menyetujui.

Tak lama, telpon pun ditutup dan aku kembali menelusuri halaman demi halaman untuk menyelesaikan bacaanku. Semakin dibaca semakin aku ingat akan sekolah yang kucita-citakan dulu, hanya saja bentuk yang ini jauh lebih murah. Berharap besar aku dapat mendapatkan jalan untuk menghubungi orang-orang yang tersebut di buku itu. Jantungku berdegup tak sabaran mendengar kabar dari Uni Shanty.
Setelah percakapan di telpon dengan Uni Shanty, aku berusaha untuk kembali pada rutinitas normal, walaupun konsep sekolahalam ini masih terus ada di bayanganku setiap saat. Berusaha keras untuk menepisnya agar dapat berkonsentrasi dalam melayani anak-anak yang dititipkan padaku. Tapi apa daya, itulah kebiasaanku, kalau baru menemukan sebuah hal atau ide baru, selalu meluap-luap gak jelas.

Penantianku ternyata tidak memerlukan waktu yang lama. Hanya lepas sehari, Uni Shanty menelponku dan memberikan kabar baik.

“Nanti kalau Beliau tanya tahu darimana nomor telponnya, bilang aja tahu dari Pak Prima. Pak Prima itu sama dengan Beliau jadi calon waktu pemilihan Ketua Alumni ITB kemaren.” pesannya.
“Oo, gitu. Iya deh. Jadi ini nomornya ya. Makasih banyak ya, Un. Mudah-mudahan jodoh ya.” kataku berharap.
“OK deh. Good luck ya, Mi.” katanya menyemangati.
“Thanks ya, Un.” balasku.

Klik. Telpon pun ditutup kembali.

Langsung kuputar nomor yang baru saja kudapat, terdengar suara yang cukup tenang menjawab di seberang sana.

“Selamat Siang. Benar ini dengan Pak Lendo?” tanyaku.
“Ya. Betul. Ada yang bisa saya bantu?” jawab suara dari speaker telpon.
“Begini Pak. Euh.. Saya Miya dari Padang. Saya baru membaca buku Sekolah yang Membebaskan dan saya tertarik untuk membukanya di Padang. Bagaimana ya, Pak, prosedurnya?” tanyaku lagi.
“Oo, itu. Ibu bisa telpon Ibu Loula di nomor ini. Nanti Beliau akan bantu Ibu.” jelasnya.
“Begitu ya, Pak. Kalau gitu, terima kasih banyak ya, Pak. Saya langsung hubungi Ibu Loula hari ini juga. Semoga berjodoh ya, Pak. Terima kasih.” kataku.

Singkat cerita, dua minggu setelah kisah percakapan di telpon itu, aku pun menginjakkan kakiku di School of Universe. Tidak jauh dari bayanganku, apalagi setelah aku diajak berkeliling oleh Ibu Loula. Sedikit curiga, karena aku berasal dari ranah Minang ia pun sebisa mungkin menggunakan bahasa Minang semampunya. Tapi segan untuk bertanya, jadi ku bawa lalu saja pikiranku itu.

Kunjungan itu disebut dengan open mind process buat komunitas Sekolahalam. Dan itu hanya kuhabiskan dalam waktu sejam, dimana orang lain biasanya membutuhkan waktu 1-2 hari untuk menjelaskannya. Bagiku apa yang dijelaskan oleh Ibu Loula sama persis dengan apa yang kurasakan dulu ketika di bangku sekolah dan dengan apa yang kubayangkan selama di perjalanan menuju ke SoU. So, cukup mudah bagiku mengerti semuanya.

Sepulangku dari sana, aku pun menceritakannya kepada seluruh pejabat Yayasan, dan kami pun sepakat untuk melakukan perubahan menuju Sekolahalam Padang, seperti nama Sekolahalam lainnya.

Setelah melakukan berkali-kali koordinasi, akhirnya team dari SoU pun datang untuk memberikanku saran untuk pengelolaan sekolah dan apa saja yang kubutuhkan untuk mendirikannya. Sekitar 5 hari mereka di Padang, mulai dari pantokhir staff fasilitator, open mind, training awal, planning, dan lain sebagainya dilaksanakan secara maksimal secara bekerja sama.

Suatu hari terlintas olehku untuk menjadikan sekolahalam ini menjadi pusat dari seluruh sekolahalam yang akan eksis di masa depan. Maka kutanyakan pada Ibu Loula, apakah untuk menamai sebuah sekolahalam harus berdasarkan nama kotanya. Dan ternyata Beliau pun menjawab tidak. Maka dengan bangganya aku pun mengganti nama Sekolahalam Padang menjadi sekolahalam minangkabau: dengan semua huruf dalam bentuk huruf kecil. Harapan mengganti nama sekolah ini menjadi sekolahalam minangkabau adalah adanya sekolahalam bukittinggi, sekolahalam solok, sekolahalam batusangkar, sekolahalam payakumbuh, dan lain sebagainya. Mudah-mudahan, ya Rabb..

Dua minggu setelah team SoU menghabiskan waktu di Padang, kami pun mengirimkan team fasilitator yang akan ditraining langsung di SoU, berhubung kami belum mempunyai murid karena metode training adalah learning by doing. Proses training berjalan cukup lancar dan hasil yang diharapkan juga tercapai.
Training itu berlangsung selama dua bulan. Dengan bermodalkan kamar kost seadanya, para team fasilitator dengan sukacita melaksanakan tugas belajarnya. Alhamdulillah..

Proses persiapan memang terlaksana dengan lancar dan sangat dimudahkan olehNya. Ditambah kedatang Pak Kemal dan team dari Kaboa yang menambah kekuatan dalam teamwork kami dan menambah banyaknya simpatisan yang mendukung pendirian sekolah ini. Total kami adalah 7 orang staff internal dan 50 orang simpatisan. Angka yang cukup memuaskan.

Dimulai dengan mengadakan acara workshop secara besar-besaran di halaman & aula kantor Gubernur Sumbar, dengan pembicara Bang Lendo sendiri dan sponsor dari Rinso (pada saat itu sedang maraknya untuk mensosialisasikan “Jangan Takut Kotor”), kami pun mulai mensosialisasikan SAM ke masyarakat umum. Modal dana yang cukup besar untuk mensosialisasikannya. Kami pun cukup pede dengan konsep yang ditawarkan. Ternyata, realita berkata lain. Mungkin di Jawa, konsep pendidikan seperti ini sudah bisa diterima masyarakat luas, tapi belum untuk masyarakat Sumbar umumnya dan Padang khususnya. Bermodalkan kurang lebih 40 juta tapi ternyata yang kecantol hanya 3 orang, kami pun memutar otak agar sekolah ini mempunyai murid yang cukup. Bagaimana pun kami membutuhkan jam terbang dalam dunia pendidikan formal.

Subsidi silang. Memang sudah direncanakan untuk menerapkan sistem ini untuk membuktikan bahwa sekolah berkualitas itu tidak perlu mahal. Maklumlah, jelek-jelek begini pengen rasanya untuk mempunyai proyek idealis. Tapi planning itu tidak untuk dilaksanakan sekarang. Bagaimana pun juga untuk menjalankan sekolah pun membutuhkan dana yang tidak sedikit. Tapi ini realita yang harus dihadapi. Fasilitator sudah tersedia, fasilitas pun sudah ada, apa lagi? Mau 3 orang muridnya atau 40 orang, tetap biaya operasional yang harus dikeluarkan pun sama. Dan kali ini aku pun merasakan memang Tuhan mengarahkan jalanku untuk ke sana. Harus dilaksanakan SEKARANG!!!

Akhirnya, dengan dibantu oleh para simpatisan, kami pun hunting murid ke daerah-daerah yang ditempati oleh orang-orang yang kurang beruntung. Berkoordinasi dengan lurah, dari lurah ke RW, dari RW ke RT, dari RT langsung ke rumah sasaran. Dengan bermodalkan alat survey seadanya, kami pun melakukan assessment untuk calon-calon murid yang akan kami berikan beasiswa 12 – 14 tahun. Alhamdulillah, terkumpullah 45 murid beasiswa dan 3 murid non-beasiswa dan kami pun jadi menjalankan tahun ajaran 2006/2007 dengan maksimal.

Hari pertama sekolah hingga 1 bulan perjalanan, sekolah itu bagaikan pasar. Kata-kata kotor di sana sini. Ditambah kepanikan para fasilitator yang harus menghadapi kenyataan bahwa ternyata mereka harus bekerja keras untuk mendidik anak-anak ini. Tidak seperti di SoU yang berasal dari kalangan-kalangan terdidik dan mampu secara finansial. Ditambah training di SoU dilaksanakan ketika tahun ajaran sudah mau habis, jadi anak-anak sudah cukup terdidik dan mudah untuk diarahkan.

SALUT!!
Kata-kata itu yang cocok untuk mengekspresikan kekagumanku pada kesabaran para anggota teamku untuk segala perjuangan mereka yang sangat besar untuk beradaptasi dan membantu anak-anak serta orang tua mereka untuk merubah pola asuh di rumah. Cukup 1 bulan untuk merubah isi sekolah seperti pasar hingga menjadi seperti sebuah sekolah. Pengalaman yang sangat berkesan bagi kita semua saat itu dan tidak akan pernah terlupakan hingga kapan pun. Ingin rasanya memeluk mereka satu per satu, para fasilitator dan siswa-siswi, yang berjuang untuk kebaikan. Belum lagi para simpatisan yang tidak bosan-bosannya selalu membantu untuk sekolah ini. Ahh, bersyukur aku dikelilingi oleh orang-orang ini..

Belajar dari pengalaman marketing, yang setelah mengeluarkan dana yang tidak sedikit tapi tidak efektif, akhirnya kami pun memutuskan untuk tidak lagi membudgetkan dana di bidang periklanan ataupun kegiatan marketing lainnya. Buat kami marketing “mouth to mouth” sangat menjanjikan. Akhirnya kami pun concern dengan apa yang kami punya dan melakukan apa yang kami bisa semaksimal mungkin untuk hasil yang maksimal juga. Memang hingga sekarang yang sudah memasuki tahun ke 5, masih ada orang yang belum dengar tentang sekolahalam ada di ranah Minang. Tapi tak mengapa, toh memang bukan popularitas yang kami cari, tapi kepuasan batin yang sudah jarang didapatkan di saat-saat seperti sekarang ini.

Yah, inilah aku dan hidupku. Mungkin sekolah ini hanya berawal dari sebuah mimpiku, tapi aku pun tak mau egois. Mimpi ini telah menjadi mimpi sekawanan anak-anak muda yang bermaksud untuk menunjukkan kepada semuanya bahwa kita bisa melakukan sesuatu yang sangat berguna untuk negeri ini…

Teruntuk teman-teman SAM, baik fasilitator, simpatisan, orang tua siswa dan tentunya siswa SAM…
Echo Homestay, 8 Juni 2010 dini hari dan
Kamar & Toilet pribadi, 12 Juni 2010 dini hari juga..

4 responses

  1. nice story…!!! glad to found you n SAM… thank you bu miy….

    February 21, 2011 at 1:34 am

  2. Hehehe.. belum ada apa2nya nih.. yang penting sama visi aja dulu ya.. namanya juga masih belajar 🙂
    Glad to find you too, Ms. Vie.. Semoga kita bisa sama2 memajukan sekolah ini.. 🙂

    February 21, 2011 at 2:04 am

  3. sulastri

    bu’ Miya.. kalau masuk playgroup atw tk di sam skrg masih bisa ga? kalau udh lewat tahun ajaran baru..

    October 9, 2012 at 5:52 am

    • Datang dan daftar saja dulu, Bu.. Kita terima pendaftaran sepanjang tahun kok.. Nanti setelah daftar, dikasih jadwal sit-in (trial) baru setelahnya kita bisa lakukan penerimaan dan identifikasi kebutuhan anak Ibu.. 🙂

      November 26, 2012 at 2:21 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s