Pendidikan?? Ohhh Noo..!


Ditemani MP3 yang mengalun dari iTunes-ku, angin yang berhembus sepoi-sepoi dari balik jendela di depan meja kerjaku di sekolahalam minangkabau, membuat aku kembali bernostalgila tentang perjalananku hingga hari ini.

Diawali dengan ketidakpercayaanku akan pendidikan di Indonesia sehingga membuatku membuka lagi cita-cita lamaku untuk mendirikan sebuah sekolah seperti sekolah yang pernah aku hinggapi di luar Indonesia. Aku tidak ingin anak-anakku kelak merasakan apa yang dirasakan oleh Ibunya ketika detik-detik kepergiannya ke sekolah dulu: perasaan enggan masuk kelas, sebal dengan pelajaran yang jarang aku mengerti ketika guruku mengajarkannya di depan kelas, malas bangun pagi untuk berangkat ke sekolah, dan lain sebagainya. Well, I’m not a big fan of Indonesian School, just like my father.

Satu ketika, aku pernah berada pada sebuah titik dimana aku sangat mencintai sekolahku.
Pertama kali aku bergabung di sana, aku sangat membencinya karena perbedaan bahasa yang membuatku harus berjuang keras. Beruntung aku punya Papa yang membantuku hingga larut malam, mengerjakan tugas-tugasku karena aku masih belum mengerti dan aku belum bisa menulis dengan tangan kananku karena kecelakaan itu. Tapi setelah aku mulai memahami bahasa pengantarnya, aku pun sangat menikmati berada di sekolah itu. Selain memang karena kemewahan fasilitasnya yang membuat semua murid di sana bisa melakukan apa saja yang disukainya, aku merasa tidak ada paksaan yang mengharuskan aku pintar di semua mata pelajaran.

Berhubung kurikulum Indonesia jauh lebih kompleks dibanding kurikulum di sana, aku pun menjuarai bidang matematika. Sangat jarang anak-anak sepertiku yang menyukai matematika. Dari semua mata pelajaran yang mengharuskanku mengambil ke bawah (seperti kuliah), hanya matematikalah, yang menurut hasil tes seleksi masuk sekolah itu, aku bisa mengambil sejajar dengan teman-teman seangkatanku.
Mengambil mata pelajaran ke bawah bukanlah hal yang memalukan untukku saat itu, karena memang aku menyadari kemampuan bahasaku yang memaksa aku untuk itu. Tapi aku sangat mencintai sekolah itu. Aku tidak pernah diingatkan untuk membuat tugas-tugas, Mama tidak perlu repot untuk membangunkanku setiap pagi untuk pergi sekolah, bahkan aku enggan untuk pulang dari tempat itu.

Setelah aku masuk ke SMA, aku berubah total. Nilai-nilaiku seperti kebun bunga yang sedang bermekaran. Aku senang untuk datang ke sekolah tapi bukan untuk belajar di kelas. Aku senang karena ektra kurikulernya. Dengan berbekal seribu satu alasan untuk keluar kelas secara legal, alhasil aku memang seperti layaknya aktifis yang sibuk ke sana ke mari. Senang rasanya melakukan itu semua. Walaupun terancam untuk tidak naik kelas, tapi aku tidak takut dan pasrah saja.
Hingga saat ini tidak pernah aku merasakan manfaat masuk ke kelas ketika aku di SMA, kecuali ilmu-ilmu yang kudapat dari ektra kurikuler yang aku ikuti.

Kuliah pun tidak jauh beda. Setiap masuk on time, dosennya yang tidak on time. Sebaliknya setiap masuk telat, dosennya on time, sehingga sering terusir keluar kelas, tidak boleh masuk. Alhasil, absensiku selalu minim. Padahal aku sangat menguasai jurusan yang aku ambil, hanya saja birokrasi selalu menyulitkanku. Ditambah kekecewaan karena tidak kunjung dapat judul skripsi, akhirnya aku mempending kuliahku hingga tamat sampai 10 tahun.
Lagi-lagi aku lebih asyik dengan kegiatan-kegiatan di luar, yang menurutku lebih bermanfaat daripada masuk kuliah.

Maret 2004, anakku yang pertama lahir. Ia begitu cantik dan pintar. Ia tumbuh sama persis sepertiku. Tidak bisa diam dan kritis. Aku berfikir bahwa rasanya tidak mungkin untuk memasukkannya ke sekolah-sekolah yang pernah kudatangi dulu, sehingga aku memutuskan untuk membuat sekolah!
Sekolah itu sangat sederhana, hanya berbekal bangunan restoran yang pernah kurintis tapi sudah tutup itu (bagian dari pelajaran hidupku), kupoles sana sini, akhirnya jadilah sebuah Taman Penitipan Anak yang dilengkapi dengan kelas playgroupku, yang bernama: Pelita Aksara, child care & education, sesuai dengan nama yayasan yang kubentuk bersama Mama dan suamiku.

Aku tidak punya modal pengetahuan untuk membuat sekolah selain pengalaman burukku tentang belajar di sekolah. Maka rajinlah aku untuk memperkaya wawasan hanya dengan melalui buku. Buku-buku itu, yang sekarang terpampang di library SAM, adalah guru-guru abadiku yang selalu memberikan ilmunya yang tiada tara itu kepadaku, sepanjang hayatku.

Untungnya prinsipku tidak mengalahkan kekuranganku: pengalaman adalah guru yang paling berharga.
Dengan modal nekat, dan managemen ala ku, ku buka sekolahku itu dengan muridnya anakku sendiri dan beberapa anak dari kerabat dekat. (thank you for Ria Raymond, Vera Vebrina, Silvia Icin, Fira, dll).
Bermodalkan ilmu dari buku, dan pengetahuan tentang PAUD dari temanku, Yona, di Departemen Pendidikan Nasional pusat, akhirnya kumulai untuk mendidik mereka, bertiga dengan sahabatku Silvia Sisil dan Wiwin.

Kemudian, aku ingin tempatku terdaftar secara legal di Dinas Pendidikan Kota Padang agar orang tua pun yakin bahwa tempat ini cukup bagus. Berbekal prosedur yang diberitahu temanku tadi, aku pun beranjak ke sana. Cukup PD untuk pergi ke sana karena banyaknya kolega sewaktu aku bergabung dengan salah satu ekstra kurikuler di SMA, tapi ternyata itu semua tertimbun dalam-dalam karena ternyata belum ada prosedur yang resmi bagaimana cara mengurus izin PAUD saat itu. Bahkan petugas yang kutanya, setelah dioper ke sana kemari seperti bola, masih belum tahu apa itu Pendidikan Anak Usia Dini, karena yang mereka tahu justru hanya Taman Kanak-kanak. Ohh, My God!!! Sedikit membingungkan memang sehingga aku mengurungkan niatku untuk melegalkannya secepat itu.
Walaupun beroperasi secara ilegal, tetapi perkembangan Pelita Aksara cukup bagus. Belum setahun, penghuni TPA itu sudah mencapai belasan, bahkan pernah hingga dua puluhan. Sebuah progress yang baik. Hingga suatu ketika…

(to be continued..)

*jika Ibu-ibu atau Bapak-bapak yang pernah menjadi guru dan dosen, beribu maaf untuk tulisan ini. Hanya bermaksud untuk memberikan pandangan agar pendidikan Indonesia bisa lebih baik lagi.*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s