Aku Menangis Setelah Sekian Lama Tidak


Malam ini kembali aku menitikkan air mata setelah beberapa lama tidak. Kali ini adalah karena aku teringat 7 tahun yang lalu, pada waktu yang sama, adalah kali terakhirku melihat wajahnya yang sedikit kesal karena aku berinisiatif untuk mengantarkannya ke Rumah Sakit. Aku tahu itu bukanlah kehendaknya. Tapi apa mau dikata, Tuhan punya kuasa dan manusia hanya bisa berusaha dan berdo’a. Setelah ia berdo’a begitu kuat dan berusaha semampunya untuk tetap kuat agar dapat menikahkan aku dalam waktu 4 hari ke depan.

Hari itu adalah hari Selasa.

Setelah aku pulang dari sedikit usaha untuk terlihat lebih indah di hari pernikahanku, tiba-tiba Mama datang dan melaporkan kepadaku bahwa Beliau demam dan pucat. Biasanya itulah tanda-tandanya untuk mengunjungi rumah sakit dan menghuni salah satu kamar di Paviliun Embun Pagi. Berkali-kali Mama memintanya untuk mengunjungi rumah sakit tapi Beliau menolak dan murka. Terbatas dengan daya, maka Mama memintaku untuk membujuknya.

Bujukanku berhasil. Itulah kali pertama dan terakhirku memasangkan celana panjangnya agar ia terlihat sedikit rapi. Dengan senyum di bibirnya, ia duduk di bibir tempat tidur dengan bantuanku yang tidak sedikit. Kucoba untuk membantunya berdiri, tapi ia terlalu lemas dan cukup banyak kekurangan darah untuk mewujudkannya. Akhirnya kursi kerjanya yang kupakai untuk membawanya ke mobil. Sepanjang proses itu, ia terus tersenyum dan kami pun terus menghiburnya hingga ia terbaring di rumah sakit. Sejam kemudian, ia memaksaku untuk pulang.

Hari itu adalah hari Rabu dini hari.

Esok harinya, tidak ada niatku untuk bergegas mandi dan menyusulnya ke rumah sakit, karena banyak yang harus kuselesaikan untuk persiapan acara besarku. Dan itu terjadi hingga sore hari, ketika saudara-saudaraku, handai taulan, teman-teman berdatangan dari luar kota untuk melihat sampai mana persiapan acara ini. Mereka panik ketika tahu Beliau terbaring di rumah sakit. Berbondong-bondong mereka mengunjungi dan spontanitas menelfonku untuk segera ke sana. Tapi aku tak beranjak. Pikirku mengatakan bahwa mereka terlalu kaget untuk melihat kondisinya karena tidak terbiasa. Aku terbiasa, maka aku tenang-tenang saja. Bertubi-tubi telefon genggamku berdering dengan ajakan, atau lebih tepatnya perintah, untuk datang ke rumah sakit secepatnya. Tapi takku gubris karena aku, Miss Perfectionist, tidak mau keluar rumah karena belum mandi. Arrgghhhh!!

Sampai suatu ketika, saat aku mendengar salah satu tanteku berbicara dengan volume suara yang keras, menanyakan kepada seseorang yang aku tidak tahu siapa karena aku hanya menyimaknya dari balik kamarku, di mana letak kain-kain panjang simpanan Mamaku. Danggg!!! Apa ini? Kenapa ini? Apakah seserius itu? Aku hilang akal..

Saat itu Rabu, kurang lebih pukul 15.15 WIB

Aku terpana, tidak tahu harus berkata apa. Hati ini masih menyangkal bahwa sesuatu yang serius sedang terjadi. Aku panik. Aku berlari ke kamarnya, yang saat ini adalah kamarku, dan melepaskan tangisku sejadi-jadinya tanpa terdengar orang lain di luar, di atas tempat tidurnya, yang saat ini adalah tempat tidurku. Saat itu aku masih belum tahu apa yang sebenarnya terjadi tapi intuisiku mengatakan bahwa ada yang tidak beres dan itu pasti sesuatu yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Saat itu Rabu, kurang lebih pukul 15.30 WIB

Aku terus menangis, seperti anak kecil yang pecah balonnya, tersedu-sedu hingga bantal yang kujadikan peredam suaraku basah kuyub. Saat itu, akhirnya aku bisa menerima apa yang dari tadi aku terus sangkal. Aku seperti dalam sebuah situasi harus membuat keputusan yang berat dalam waktu yang singkat. Pada akhirnya aku mengalah. Hatiku terlalu sesak untuk mempertahankan pendapatku bahwa tidak terjadi sesuatu yang serius. Akhirnya aku berdamai dengan hatiku dan berbisik, “Pa, kalau Papa mau pergi sekarang, pergilah. Nggak usah tunggu Miya ke sana, Miya ikhlas kok.”

Saat itu Rabu, kurang lebih pukul 16.00 WIB

Setelah menyeka air mata dan berpura-pura bahwa aku dalam keadaan normal, aku keluar dari kamar orang tuaku dan melintasi ruang tengah menuju kamarku. Saat itu, sahabat karibku menelefonku dan mengatakan semuanya. Bahwa Papa baru saja pergi untuk selamanya dan tidak ada yang kuasa untuk mengatakannya kepadaku.

Aku lemas terduduk dan membisu. Hanya air mata, yang saat ini pun keluar, membasahi seluruh permukaan wajahku. Apa daya, nasi sudah menjadi bubur. Hanya penyesalan yang datang dikemudian hari karena belum mengunjunginya di pagi hari.

Untuk Papa yang mungkin tidak bisa membaca notes ini tapi bisa merasakannya, bahwa aku sangat merindukan sosoknya, pendapat-pendapatnya ketika aku sedang susah, mendengarkan lelucon-leluconnya yang garing, petualangan-petualangannya, cerita-ceritanya, keluh kesahnya, amarahnya, pelototannya, permintaan-permintaannya, nasehat-nasehatnya, semuanya yang ada didirinya.

Untuk Papa yang sedang memandangku meratapinya sekarang, aku ingin mengatakan bahwa aku merasa kehilangan dirinya. Sangat. Bahwa aku menyesali segala kebodohan-kebodohan yang kulakukan kepadanya. Sangat. Bahwa aku mengidolakannya. Sangat. Bahwa aku baru menemukan jawaban-jawaban atas segala tindakannya terhadapku setelah aku menjadi seorang ibu dan aku menyesali atasnya. Sangat. Bahwa aku memetik banyak pelajaran-pelajaran berharga darinya. Sangat.

Papa, terima kasih atas segalanya yang telah kau berikan kepadaku. Baru aku sadar bahwa aku sangat kehilanganmu dan menyayangimu, setelah kau pergi.

Semoga Papa beristirahat dengan tenang di sisi-Nya. Amien.

my father in heaven, my and my mom..

Di kamarku, yang dulu adalah kamar Papa, 23 April 2010 @1.36 dini hari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s