Kopi Darat 1999


“Halo, ini siapa?” tanyaku setelah berpuluh-puluh kali berbalas SMS dan akhirnya kutelfon dia karena penasaran.
“Ini Michael. Ini Miya ya?” suara di seberang sana bertanya balik.
“Iya. Tau nomor gw darimana?” balasku.
“Dari temen.” jawabnya singkat dengan backsound gedebak gedebuk bola sodok.

Begitulah awal perkenalanku dengan seorang pria metropolis, yang setelah kopi darat bermodalkan beberapa buah durian yang kubawa dari rumah orang tuaku di Sijunjung sana, baru kutahu bahwa ia adalah pria berdarah Cina yang sangat Indonesia melebihi orang Indonesia asli. Dengan dibalut kemeja kotak-kotak biru, celana panjang biru tua, sepatu kulit hitam dan sebuah anting di telinga kiri, ia cukup memberiku kesan bahwa ia adalah seorang yang cukup necis tapi sedikit preman.

Setelah melewati masa-masa pedekate yang cukup gencar dengan menggunakan teknologi mutakhir a.k.a. handphone selama kurang lebih satu bulanan, ditambah sekitar satu bulan lagi pertemuan dalam bentuk nyata, akhirnya kami sepakat untuk berjalan bersama dengan tujuan mengenal satu sama lain. Konsekuensi yang harus kami hadapi dengan kesepakatan ini adalah long distance relationship, yang kami jalani dengan suka cita.

9 bulan. Seperti seorang Ibu yang sedang mengandung jabang bayi, yang ketika batas waktu ini si jabang akan melakukan demonstrasi besar-besaran di dalam perut Ibunya untuk segera dikeluarkan. Sama dengan sebuah ikatan cinta monyet itu yang kemudian meledak menjadi sebuah bom atom yang akhirnya memporakporandakan segalanya.

cinta monyet itu usai sudah.

Saat itu aku tak menyesal. Mungkin memang itu yang terbaik. Menurutku masa muda adalah masa-masa pencarian jati diri, seperti burung yang terbang tinggi dan bebas untuk menentukan mau bersandar ke pohon mana dan membuat sarang di bagian cabang pohon yang mana.

Dan memang. Memang aku terbang ke sana kemari, mencari mau kemana dibawa hidup ini. Hinggap dari pohon ke pohon, cabang ke cabang dan ranting ke ranting. Jatuh cinta dengan beberapa pria. Hingga sampai pada satu titik di mana ternyata aku tidak bisa menemukan apa yang kucari.

Kembali aku mengingatnya.

Aku mengingatnya karena ketulusannya memberikanku apa yang tidak pernah kudapat dari pelajaran-pelajaran hidupku. Bahwa hanya dialah yang bisa membantuku untuk menjaga keseimbanganku pada titian hidup. Bahwa hanya dialah aku bisa merasa berada di rumah.

Tak lama selang kami berpisah, aku pun berusaha untuk mengontaknya kembali dengan mengubur dalam-dalam apa yang dinamakan dengan gengsi, dengan sorak-sorai pemandu sorak dari sahabat karibku di belakangku. Mokal berbicara langsung, kuputuskan untuk mengirimkan pesan singkat yang cukup panjang, meminjam syair lagu Melly Goeslaw “Jika” yang cukup mendeskripsikan maksud dan tujuan dari isi pesan singkat tersebut. Tak ada jawaban. Akhirnya kuambil sebuah kesimpulan, “MAAF. ANDA BELUM BERUNTUNG. THE MAN YOU REACHED IS OCCUPIED AT THE MOMENT.”

Apa mau dikata. Hilang harapan. Berusaha untuk tegar dan melupakan. Semakin berusaha melupakan, semakin bergentayangan wajahnya di setiap bengongku. Alamakkk!!

Satu saat aku berkunjung ke ibukota Metropolitan untuk cek up kawat gigiku, dan itu dilakukan setiap bulannya. Argumentasiku kepada orang tuaku bahwa di kota tempat tinggalku tidak ada dokter gigi yang punya perawatan kawat gigi. Mereka percaya, dan membuatku travelling tiap bulan mondar-mandir layaknya seorang business woman yang melakukan perjalanan bisnis untuk proyek-proyek 5 milliar. Gila!
Pada salah satu kunjunganku itu, tak kuasa menahan keinginan untuk kembali menghubunginya. Akhirnya, setelah sebuah alasan konyol yang diutarakannya, membuatkan simpul dasi untuk ia pakai ketika sidang, aku menyetujui untuk bertemu di sebuah bengkel milik saudaranya yang terletak di dekat rumahnya. Setelah melakukan job yang sudah disepakati di telefon, maka kukatakan, dengan tetap menjaga gengsi, bahwa aku sudah melaksanakan tugasku dan sepertinya aku harus kembali pulang. Ia pun tersenyum. Menawarkan traktiran makan malam sebagai bayarannya, dan aku menyetujuinya. Kami pun pergi meninggalkan bengkel, mampir ke rumahnya untuk menemui Ibunya karena beliau selalu menanyakanku, dan langsung menuju restoran yang sampai sekarang aku lupa di mana dan apa.

Pertemuan itu cukup menghiburku tapi ceritanya selama pertemuan itu cukup membunuhku. Arrgghhh!! Ternyata benar dugaanku, ia pun sedang hinggap pada pohon yang lain. Pupus sudah harapan.
Sepulangnya, dengan bermodalkan uang tiga ribu rupiah, aku keliling kota Jakarta sambil menangis bombai meratapi kekecewaanku dan menghamburkan curahan hatiku ke seorang teman MIrc yang sampai sekarang aku pun belum pernah bertemu dengannya.

2 tahun kemudian, diawali dengan sebuah kontak dari seseorang yang sudah ia anggap kakaknya sendiri, maka kami bertiga pun berkumpul lagi, reunian kata orang, di kota yang sangat kucinta dan kubela ini. Kami pun berbagi cerita. Singkat kata, aku ada harapan lagi. Yeyyy!!
Kami pun menjaga kontak satu sama lain. Hingga suatu saat, di saat usiaku bertambah menjadi 21 tahun, aku meminta bingkisan sebuah tas tongkat billiard. Ia penuhi. Dan di saat lain, aku mengundangnya untuk datang ke sebuah pub, di mana aku bekerja sebagai seorang biduanita. Tak disangka tak dinyata, ternyata ia pun datang. Padahal aku tahu, ia tidak suka tempat itu. Sepertinya magnet itu bekerja kembali. Aku pun senang.

November 2001, ketika Ibunya berpulang ke pangkuanNya, dengan restu Ibunya sebelum “pergi”, akhirnya kami pun sepakat untuk Coba Lagi Award terhadap ikatan yang sebelumnya terputus. Kali ini usaha lebih serius. Dan bertahan lebih lama dari sebelumnya, sekitar satu setengah tahun. Rekor baruku dalam hal hubungan percintaan.

Akhir 2002
Aku memutuskan untuk menikah cepat menimbang kesehatan Ayahku yang tak kunjung membaik. Walaupun pada awalnya Beliau menolak karena aku belum tamat kuliah, akhirnya melunak dan menyetujuinya. Kami pun dipanggil dan diinterograsi. Dengan proses yang cukup singkat akhirnya kami dan keluarga besar dari kedua belah pihak memutuskan untuk menjalin ikatan keluarga yang permanen. Memang, untuk memutuskan ini aku pun memutar otak cukup keras, ditambah Istiqarah 40 hari, memainkan intuisiku secara maksimal dan menimbang positif dan negatifnya. Jawabannya, aku siap, dengan segala konsekuensinya, aku mantap dengan ia sebagai jodohku.

April 2003
Kami pun menikah, walaupun tidak sesuai dengan rencana. Jadwal dimajukan satu hari lebih cepat dan segala jenis pesta dibatalkan. Kecewa, iya. Karena aku sudah bekerja keras menyiapkan semuanya. Tuhan mendengarkan do’aku yang pertama bahwa kalau aku menikah aku tidak mau pesta yang besar. Buatku upacara sakral cukup. Dan itu yang dikabulkanNya.

Didepan jenazah Ayahku, kami pun mengikat janji untuk terus bersama hingga maut memisahkan kita, seperti kata Amy Search dalam lagu Isabella. Lebai juga Miya ini! Ritual-ritual standar sebuah pernikahan pun banyak yang kami tinggalkan. Memang hanya sebuah akad nikah tapi sarat makna di dalamnya. Semua kolega, kenal tak dikenal, pun datang menghadirinya. Sungguh sebuah pernikahan yang diberkati semua orang. Aminn..

24 April 2010
Tak terasa kejadian-kejadian yang barusan ku kenang sudah 9 tahun yang lalu. Ikatan sehidup semati itu pun sudah berumur 7 tahun. Bagai kata orang bijak, sebentar lagi kapal akan beranjak stabil. Dan kami pun berharap demikian.
Di umur 7 tahun ini aku menyadari bahwa aku belum memerankan peranku dengan baik. Masih banyak pengasahan sana-sini. Portofolioku belum banyak. Masih butuh banyak belajar.

Laki-laki yang kurang romantis itu, bernama Sandi Purnawan, yang bangga dengan gelarnya Panghulu Di Rajo. Yang selalu mengingatkanku untuk kembali pulang.

Happy Anniversary, Beh..

Mudah-mudahan Kapal ini akan terus berjaya hingga dimakan oleh pusaran air yang besar.

Terima kasih karena sudah memberikanku arti sebuah keluarga dan selalu mengingat akan rumah.

Terima kasih karena sudah menjadi Babeh yang terbaik untuk Gita dan Luki.

Terima kasih karena sudah menemaniku selama ini.

Di kamarku, begadang untuk sebuah hadiah kecil ini..
24 April 2010, @5:42 WIB

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s