Potret Pendidikan Indonesia


Manusia adalah makhluk yang dinamis, yang terus menerus dalam proses penyempurnaan. Untuk menjadi manusia yang seutuhnya diperlukan kebebasan sehingga potensi diri yang dimiliki bisa berkembang menjadi lebih matang, lebih dewasa. Salah satu proses untuk menjadi lebih dewasa, yang mampu berfikir dan melakukan tindakan atas pilihan sendiri, adalah melalui pendidikan. Pendidikan adalah suatu proses pencapaian kebebasan nurani, yaitu bebas dari segala keterbatasan dan budaya sugesti yang mempersempit pola pikir dan mengukung potensi diri.

Saat ini kita selalu melihat fenomena pendidikan yang tidak mendewasakan dan tidak membebaskan. Pendidikan telah dibatasi untuk menghafal buku teks dan mengabaikan realitas yang terbentang di alam luas. Dunia pendidikan saat ini sangat minim dari dinamika, perkembangan dan perubahan. Contoh kecil yang dapat dilihat adalah ketika anak didik atau orang dewasa diminta untuk menggambar pemandangan, maka hasilnya hampir sama secara keseluruhan: gunung kembar dengan matahari di tengahnya, dengan jalan lurus atau berkelok dengan petak-petak sawah di kiri dan kanannya dan burung-burung yang menghiasi langitnya.

Fenomena inilah yang tidak melatih respon kreatif anak didik dan dampak yang paling membahayakan adalah memasung kebebasan, kreatifitas dan membunuh daya pikir anak. Pendidikan Indonesia mengutamakan penyeragaman dan mengabaikan kreatifitas, seperti yang terlihat dari kebiasaan guru yang menuntut satu jawaban benar untuk satu pertanyaan.

Pendekatan seperti di atas memandang manusia sebagai makhluk yang pasif. Murid adalah sebuah bejana kosong yang harus diisi dengan nilai-nilai mapan dan baku dalam masyarakat. Murid diterangkan dan guru menerangkan, sehingga guru dominan dan mendominasi ruang belajar. Murid dapat dan harus jinak, duduk rapi, tidak bersuara, lengan terlipat di atas meja dan mata memandang guru, sementara di kelas hanya suara guru yang terdengar.

Saat ini, pendidikan Indonesia telah menjadi upaya industri seperti mesin, dengan memperlakukan anak didik sebagai bahan baku yang dicetak dengan produk akhir berupa tenaga kerja. Lebih parah lagi, pendidikan modern mendorong manusia menjadi seorang yang individualis, melupakan kenyataan bahwa mereka adalah makhluk sosial, dilatih untuk mengalahkan dan menyisihkan orang lain sehingga membagi manusia menjadi ”si pintar” dan ”si bodoh”.

Dunia pendidikan di Indonesia hampir tidak pernah ada perubahan yang berarti, tidak pernah mengindahkan tujuan pendidikan itu sendiri, yaitu mendewasakan manusia. Ini terlihat dari kebijakan politik pendidikan, muatan kurikulum, gaji guru, ”lay out” kelas sampai ke standarisasi ukuran furnitur yang akan dibakukan dalam revisi kurikulum 2004. Tidak ada yang membebaskan dan mendewasakan. Semua dikotak-kotakkan, membunuh kebebasan berkreasi murid, guru bahkan orang tua murid sekalipun.

Pendidikan akhirnya bersifat negatif, di mana guru memberi informasi dan murid menerima serta menghafal. Karena guru menjadi pusat, maka wajar saja jika murid mengidentifikasikan diri pada guru, yang pada akhirnya mereka akan menduplikasi guru mereka, yaitu guru yang tidak bangga dengan profesinya dan yang kehilangan kepercayaan diri dan lemah daya ciptanya.

Apa yang salah dengan sekolah kita? Yang salah ialah sekolah tidak pernah berkembang secara dinamis, selalu ketinggalan zaman. Sekolah bukan ruang belajar yang sama dengan lingkungan sekitar. Sekolah adalah ruang di mana anak-anak diisolasi dari kehidupan nyata. Anak-anak ”dipenjarakan” dan bergaul dengan guru yang memiliki otoritas mutlak, yang telah berpengalaman lama dalam mengajar tetapi tidak pernah dilihat orang lain, sehingga tidak pernah dievaluasi orang lain dan tidak pernah melihat orang lain mengajar.

Karena itulah, timbul sebuah benang merah yang memisahkan sekolah dengan lingkungan sekitar. Tidak ada kesamaan antara visi pendidikan dan visi masyarakat. Hal ini berefekkan pada banyaknya siswa SD yang putus sekolah, banyaknya pengangguran karena anak didik tidak dikembangkan kesadaran dan kreatifitasnya untuk hidup mandiri. Anak didik berlama-lama sekolah tetapi hanya mendapatkan sedikit yang bisa dipakai dalam realitas kehidupannya di masa depan. Kapan kita bisa merubah peradaban yang kian lama kian terpuruk ini?

”Sebelum merantau, sejak kecil saya biasa membantu orang tua bertani sehingga ketika gagal di perantauan tidak kesulitan bertani lagi. Tetapi anak muda sekarang sebelum merantau waktunya habis untuk sekolah dan tidak biasa memegang cangkul. Akhirnya setelah gagal di perantauan mereka tak mau jadi petani. Bukan malu yang membuat perantau gagal kembali ke desa tetapi mau bekerja apa lagi di sini…” (Kompas, 22 Mei 2005)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s